ALQURAN DAN EVOLUSI MANUSIA

60 / 100

SEO Score

Sejak manusia mulai berevolusi hingga menjadi makhluk yang sadar akan diri sendiri dan lingkungannya, ia tak hentinya mencari tahu dari mana ia berasal. Mula-mula, manusia mendasarkan kehadirannya di dunia pada teori-teori yang didasarkan pada penjelasan religius, seperti terjadi pada masyarakat Eropa masa lalu yang memahami penciptaan berdasarkan paham Creationism. Ini adalah suatu paham yang didasarkan pada teologi Kristen, yang antara lain menyatakan bahwa: (1) bumi berumur 5.757 tahun; (2) bumi tidak berubah; (3) semua ciptaan tidak berubah; (4) penciptaan manusia adalah unik, utama, dan terpisah dari penciptaan makhluk Iainnya. Pendapat yang demikian ini diyakini secara luas hingga tahun 1859, ketika Darwin mengemukakan teorinya tentang evolusi.

Kemunculan teori evolusi Darwin menstimulasi masyarakat Eropa untuk berusaha memahami dirinya dari dua perspektif, yaitu: (1) bahwa evolusi memang terjadi di bumi; dan (2) bahwa evolusi ini terjadi karena adanya seleksi alam. Capaian Darwin ini bermula dari ekspedisinya ke kawasan Pasifik dan Atlantik antara tahun 1835 hingga 1836.

Dari pengamatan di berbagai tempat yang disinggahinya dalam ekspedisi ini, Darwin tertarik mengamati variasi yang ada pada jenis. Dia sampai pada kesimpulan bahwa jenis makhluk hidup yang ada itu tidaklah tetap, melainkan selalu berevolusi menjadi jenis berikutnya. Dia mengamati juga cara manusia mengawinsilangkan binatang ternak untuk memperoleh varietas unggulan. la bertanya, apakah keadaan yang demikian itu berlangsung juga di alam liar? Jika ya, siapa yang mengatur proses seleksinya?

Sejak awal, Darwin sangat terpengaruh oleh tulisan-tulisan tentang sosial-ekonomi. Pada 1838, Darwin membaca dan begitu terpengaruh oleh tulisan Malthus, Principle of Population. Di dalamnya, ia mendapati pernyataan mengenai “hukum untuk orang miskin” yang berbunyi: “Hanya mereka  yang mampu berproduksi yang berhak untuk hidup (survive). Mereka yang hidup dalam kekayaan dan tidak menghasilkan apa pun tidak seharusnya diberikan dukungan dalam bentuk apa pun.” Inilah yang kemudian memberi Darwin gagasan tentang seleksi alam dan kemenangan bagi yang terkuat, survival of the fittest. Pendapat yang demikian ini begitu mengejutkan masyarakat Eropa yang saat itu hanya memahami Creationism yang mendasarkan seluk-beluknya pada agama belaka, pada teologi Kristen.

Pendapat Darwin didukung oleh dua peneliti Iainnya, Ernest Heckle dan T. N. Huxley, terutama dalam teorinya yang berbau ateis dan pernyataan bahwa manusia berasal dari nenek-moyang yang lebih menyerupai kera. Dengan demikian, Darwin meletakkan manusia dalam bagan keturunan yang berujung pada dunia binatang. Tentu saja, ini menimbulkan gelombang ateisme di Inggris, menyaingi paham antroposentris (semua berpusat pada manusia) dari kitab-kitab keagamaan Kristen. Paham ateisme sendiri sebenarnya sudah menyebar luas di Eropa jauh sebelum teori ini muncul, terutama di Jerman dan Perancis. Jauh sesudah itu, Karl Max menggunakan teori Darwin untuk mengembangkan paham komunisme. Untuk menghilangkan paham Kristen dari masyarakat Rusia, Lenin yang sangat mengagumi Karl Marx, sengaja mendirikan museum khusus untuk menyebarkan ajaran Darwin tersebut.

Pada masa yang demikian itu, muncullah hasil-hasil penelitian yang sedikit banyak juga mewarnai opini publik. Misalnya temuan para ahli paleontologi, molekular biologi, dan ahli genetika yang menggiring pada pemahaman bahwa bentuk luar makhluk hidup (fenotipe) dikendalikan oleh gen (genotipe) yang berada dalam tubuh. Dalam tingkatan selular, gen mengatur semua aktivitas metabolisme. Bahan dasar yang membentuk gen adalah DNA (Deoxyribonucleid Acid), yang berada di bagian inti sel. Perintah yang diberikan oleh DNA ini akan dilaksanakan melalui “pembawa berita” yang berupa RNA (Ribonucleic Acid) ke tempat proses sintesis protein akan terjadi. Beratus reaksi biokimia terjadi dalam sitoplasma secara bersamaan, yang dilakukan dengan menggunakan ratusan enzim. Reaksi metabolisme yang terjadi dalam jumlah besar secara simultan ini ternyata berjalan lancar, dan tidak ada yang saling “bertabrakan kepentingan”. Semuanya diatur dengan baik oleh DNA yang hanya berupa empat rantai asam amino.

Berpuluh tahun para ahli mencoba mengungkapkan di manakah awal mula munculnya keempat asam amino di bumi ini. Pada 1955, seorang ilmuwan bernama Dr. Miller memberi titik terang terhadap permasalahan tersebut. la melakukan percobaan dengan mencampur unsur metana, hidrogen, amonia, uap, dan air, dan menembaknya dengan kilatan listrik. Proses ini menghasilkan unsur asam amino dalam air. Karenanya, ia mengemukakan teori bahwa semua gas yang diperlukan untuk membentuk DNA tersedia pada atmosfer bumi masa lalu. Dengan rangsangan kilat, secara acak terbentuklah rangkaian asam amino sebagaimana ditemukan dalam DNA. Dengan demikian, lahirlah kode genetika dari kehidupan, dan dimulai dalam bentuk kehidupan bersel satu. Dengan berjalannya waktu, bermiliar tahun kemudian, kehidupan bersel satu berubah menjadi hidupan multiseluler yang selanjutnya berkembang menjadi tumbuhan, binatang, dan berujung pada manusia.

Dari uraian di atas tampak beberapa rumpang dan penjelasan yang kurang meyakinkan dari teori evolusi. Salah satunya adalah belum adanya bukti konkret yang menjelaskan bahwa gas-gas yang digunakan oleh Dr. Miller memang hadir dalam jumlah yang mencukupi di atmosfer bumi di masa purba. Hal kedua yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sebuah struktur yang kompleks dan proses kehidupan yang canggih dengan fungsi sel dan organ yang hampir sempurna hanya bermula dari sebuah kebetulan. Terlalu naif apabila seseorang mencoba mempercayai uraian semacam ini.

Baca Juga :  Menjawab Konspirasi Moon Landing

Lebih jauh, sampai saat ini, belum ada pembuktian meyakinkan bagaimana satu jenis memecah dan berubah menjadi jenis Iain; belum jelas pula apakah ada bukti nyata bahwa manusia memang berasal dari kera. Yang jelas, apa yang menjadi dasar pernyataan-pernyataan di atas tidak lebih dari sekadar teori serta kesamaan-kesamaan anatomi dan fisiologi antara jenis-jenis yang diperbandingkan.

Transformasi manusia

Berdasarkan ilmu pengetahuan dan bukti-bukti yang ada, transformasi manusia secara umum melewati empat tahap, yaitu:


  1. Australophitecus

    Australophitecus. Kelompok ini hidup sekitar 3,5 juta tahun lalu; merupakan nenek moyang tertua yang profil tubuhnya mirip dengan manusia modern. Fosil yang ditemukan menunjukkan bahwa kelompok ini mempunyai tinggi badan rata-rata 1,5 meter, suatu ukuran yang lebih pendek daripada rata-rata manusia modern. Kapasitas kranial, rongga di kepala yang menampung otak, sekitar 500 sentimeter kubik. Otak sebesar itu diduga sudah mampu memberi mereka kreatifitas untuk membuat peralatan-peralatan dalam aktivitas sehari-hari. Kemampuan yang demikian ini tidak dimiliki oleh kera.

  2. Pithecanthrophus

    Pithecanthropines. Kelompok ini terdiri atas banyak kelompok Iain, di antaranya Pithecantrophus. Kelompok yang mirip manusia modern ini diperkirakan hidup sekitar 500.000 tahun lalu. Mereka dapat bertahan hidup sekitar 350.000 tahun. Tinggi badannya lebih berkembang, antara 1,58-1,78 meter. Kapasitas kranialnya juga lebih besar, sampai dengan 900 sentimeter kubik. Kemampuan intelektualnya jauh lebih maju ketimbang kelompok sebelumnya, begitu juga kemampuan untuk mengadakan invensi, kreasi, dan menganalisis sebab-akibat.

  3. Neanderthals (Paleanthropians). Ini adalah gelombang ketiga dari kelompok-kelompok makhluk yang mirip manusia modern. Kelompok ini hidup sekitar 100.000 tahun lalu. Kelompok ini hidup selama 60.000 tahun; memiliki ukuran tubuh yang tidak terlalu tinggi dan sudah mampu berjalan tegak. Kapasitas kranialnya mencapai 1.300 sentimeter kubik, dengan dahi yang tidak terlalu menonjol. Mereka hidup menetap, utamanya di dalam gua. Mereka sudah mulai mempunyai kebiasaan menguburkan anggota kelompok yang mati. Indikasi spiritualitas juga sudah mulai tampak, antara Iain dengan menguburkan beberapa barang, seperti tanduk kijang dan beberapa alat, bersama mayat.
  4. Homo Sapiens, sang manusia modern. Temuan memperlihatkan bahwa kelompok ini dimulai 40.000 tahun Tinggi tubuhnya mencapai 1,89 meter, dengan kapasitas kranial 1.350 sentimeter kubik; memiliki bentuk kepala lebih lonjong dengan hilangnya tulang yang menonjol di atas mata. Aktifitas yang bersifat psikis pada kelompok ini lebih menonjol daripada tiga kelompok yang disebut sebelumnya.
    Homo Sapiens

Keempat kelompok ini muncul berurutan; kelompok lama digantikan oleh kelompok yang lebih baru dan maju. Ciri utama kemajuan kelompok yang datang belakangan adalah meningkatnya kapasitas otak yang disertai meningkatnya kemampuan intelektual. Kelompok yang mirip manusia modern pada 40.000 tahun lalu, Neanderthals, memiliki kapasitas kranial yang hampir sama dengan manusia modern, Homo Sapiens, yakni antara 1.3001.350 sentimeter kubik. Namun pada kenyataannya, Neanderthals tidak sama dengan Homo SapiensNeanderthals hidup dalam kondisi primitif, sedangkan Homo Sapiens hidup dalam era yang jauh lebih maju. Bila yang demikian ini benar maka kapasitas sebesar itu percuma saja bagi kelompok Neanderthals. Mereka tidak perlu kapasitas otak sebesar itu untuk sekadar hidup primitif. Apakah perbedaan kesadaran, dengan asumsi bahwa Homo Sapiens memiliki kesadaran dan Neanderthals tidak, berperan di sini? Apakah perolehan kesadaran ini menjadi indikasi bahwa manusia modern mempunyasi tugas tertentu di masa mendatang?

Evolusi manusia

llmu pengetahuan menginformasikan bahwa kehidupan di bumi bermula dari air. Sampai saat ini, ketika manusia mengeksplorasi bintang dan planet di jagat raya serta mencari kehidupan di luar angkasa, pertanyaan pertama selalu berkaitan dengan keberadaan air di sana. Yang demikian ilu karena hanya air yang mendukung terjadinya kehidupan. Tanpa air, kehidupan menjadi mustahil.

 أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ۝

Dan apakah orang-orang kafr tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya: dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air: maka mengapa mereka tidak beriman? (Alquran, Surah al-Anbiyā’/21: 30)

وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِّن مَّاءٍ ۖ فَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَىٰ بَطْنِهِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَىٰ رِجْلَيْنِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَىٰ أَرْبَعٍ ۚ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ۝

Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian yang lain berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Alquran, Surah an-Nūr, 24: 45)

Penciptaan Manusia

Banyak ayat Alquran yang menjelaskan bahwa semua makhluk hidup diciptakan dari air. Nyatanya, 60-70% tubuh manusia terdiri dari air. Namun demikian, dalam banyak ayat Alquran, disebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan turunannya, antara lain:

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ۝

Dan kepada kaum Samūd (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “wahai kaumku, sembahlah Allah; tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Alquran, Surah Hūd/11: 61)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ۝

Wahai manusia, jika kamu meragukan (Hari) Kebangkitan maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu: dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sarnpai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan (tetumbuhan) yang indah. (Alquran, Surah al-ajj/22: 5)

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن طِينٍ ثُمَّ قَضَىٰ أَجَلًا ۖ وَأَجَلٌ مُّسَمًّى عِندَهُ ۖ ثُمَّ أَنتُمْ تَمْتَرُونَ۝

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu), dan batas waktu tertentu yang hanya diketahui oleh-Nya. Namun demikian kamu masih meragukannya. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 2)

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنسَانِ مِن طِينٍ۝

Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. (Alquran, Surah as-Sajdah/32: 7)

فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَم مَّنْ خَلَقْنَا ۚ إِنَّا خَلَقْنَاهُم مِّن طِينٍ لَّازِبٍ۝

Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah), “Apakah penciptaan mereka yang lebih sulit ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?” Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat. (Alquran, Surah aṢāffāt/37: 11)

خَلَقَ الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ۝

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. (ar-Raḥmān/55: 14)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ۝

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. (Alquran, Surah al-Muminūn/23: 12)

Alquran, melalui ayat-ayat di atas, memperlihatkan berbagai bentuk campuran dari unsur-unsur tanah yang membentuk manusia. Semua komponen kimia yang ada di tanah betul ada pada tubuh manusia. Apa pun temuan ilmu pengetahuan, sesungguhnya Alquran telah lebih dulu menyebutkannya.

 

Perspektif Alquran tentang transformasi manusia

Sebelumnya telah diuraikan teori tentang empat kelompok makhluk hidup yang mirip manusia modern yang diterima oleh ilmu pengetahuan. Apakah hal ini juga disebutkan dalam Alquran? Ayat-ayat di bawah ini diduga menjelaskan hal itu.

 يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ۝ الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ۝ فِي أَيِّ صُورَةٍ مَّا شَاءَ رَكَّبَكَ۝

Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Mahamulia, yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun tubuhmu? (Alquran, Surah al-Infitār/82: 6-8)

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ۝

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Alquran, Surah at-Tīn/95: 4)

وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا۝

Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian) (Alquran, Surah Nūḥ/71: 14)

Dua ayat di bawah ini juga berbicara tentang kemusnahan suatu kelompok yang diikuti dengan datangnya kelompok lain. Manusia modern dapat saja terbentuk dari fenomena dan kejadian-kejadian transformasi ini.

 نَّحْنُ خَلَقْنَاهُمْ وَشَدَدْنَا أَسْرَهُمْ ۖ وَإِذَا شِئْنَا بَدَّلْنَا أَمْثَالَهُمْ تَبْدِيلًا۝

Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka. Tetapi, jika Kami menghendaki, Kami dapat mengganti dengan yang serupa mereka. (Alquran, Surah al-lnsān/76: 28)

 وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ ۚ إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِن بَعْدِكُم مَّا يَشَاءُ كَمَا أَنشَأَكُم مِّن ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ۝

Dan Tuhanmu Mahakaya, penuh rahmat. Jika Dia menghendaki, Dia akan memusnahkan kamu dan setelah kamu (musnah) akan Dia ganti dengan yang Dia kehendaki, sebagaimana Dia menjadikan kamu dari keturunan golongan lain. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 133)

Tidakkah pernah terpikir mengapa banyak ayat Alquran berbicara tentang asal muasal kehidupan, utamanya manusia, meski peradaban saat itu belum mencapai tingkat ilmu pengetahuan mengenai hal itu? Jawaban dari pertanyaan ini, barangkali, adalah karena Alquran ingin menghindarkan kesalahpahaman yang mungkin terjadi dalam pembicaraan tentang topik yang hangat saat itu, dan memberikan pengertian yang benar, walaupun hal ini baru terungkap jauh-jauh hari kemudian. Banyak buku dari agama lain yang berbicara tentang asal muasal kehidupan, namun tidak ada yang mendekati temuan dan capaian ilmu pengetahuan melebihi apa yang dinyatakan oleh Alquran.

Kenyataan yang demikian ini menunjukkan bahwa Alquran adalah kalam Allah; bahwa semua ciptaan yang ada di alam semesta adalah hasil kreasi-Nya. Apabila keduanya bersumber dari Yang Satu maka tidak mungkin akan saling menafikan: satu berwujud teori, dan yang lain berwujud praktik atas teori itu. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara Alquran dan ilmu pengetahuan. Kelihatannya, temuan-temuan dalam ilmu pengetahuan adalah bentuk konfirmasi atas apa yang disampaikan Alquran. Peran peneliti kemudian adalah menemukan hukum-hukum yang telah diciptakan oleh Sang Pencipta, karena apa yang ada di alam ini merupakan akibat dari suatu sebab yang diatur oleh sebab yang paling utama, Allah subḥānahū wa ta‘ālā.

Liked it? Take a second to support 101 Kesalahan Flat Earth Indonesia on Patreon!

Content Protection by DMCA.com
 
%d blogger menyukai ini: