Asal Usul Orang Pribumi Indonesia

Asal Usul Orang , Menjawab perdebatan yang menimbulkan perpecahan di maya tentang , kita akan membahas sedikit mengenai sejarah Bangsa . Bangsa kolonial meninggalkan banyak sekali hal dalam peradaban kita, . Mulai dari bangunan dan benda-benda kuno, kurikulum sampai warung tegal yang bisa kamu jumpai di mana-mana. Selain itu ada satu peninggalan kolonial dalam bentuk pemahaman yang ternyata masih melekat di masyarakat sampai sekarang, yaitu konsep “”.

Sungguh membuat banyak orang gerah ketika kata “” ini masih dipermasalahkan dan didebatkan, padahal telah merdeka dari yang memberikan istilah tersebut. Mengerikannya lagi, istilah ini menjadi senjata pemecah yang digunakan sesama saudara sebangsa sendiri yang harusnya saling kompak bersatu tanpa pandang atribut masing-masing. Hal ini semakin diperparah dengan makin meluasnya literasi digital, tapi tidak diikuti “literasi” moral, empati dan toleransi tentang makna “” tersebut. Kalau ditelaah secara bahasa, kata “” berdasarkan KBBI berarti penghuni asli yang berasal dari tempat yang bersangkutan. Lalu siapakah Bangsa yang sebenarnya? Berdasarkan sejarah dan pernyataan para ahlinya, semua akan dibahas secara lengkap di sini!

  • Seperti apa pengertian oleh masyarakat awam dan bagaimana penyikapan mereka terhadap itu?

Pribumi

Yang dimengerti secara kilat, kaum atau orang asli dalam pandangan masyarakat adalah suku seperti Jawa, Batak, Minangkabau, Bali, Dayak, Papua dan masih banyak suku lainnya yang telah kita pelajari dari , termasuk di dalamnya ada baju adat, lagu dan atribut lainnya.

Trending sekarang :
Telkomsel Paket Ilmupedia Hanya Rp10

[media-credit id=”1″ align=”aligncenter” width=”1024″]Indonesia[/media-credit]

Sementara itu orang-orang keturunan , , yang cukup banyak ditemukan di masih sering dianggap “asing” atau “pendatang”. Padahal mereka bukan sekedar lahir dan besar di , melainkan juga memegang dan menggunakan Bahasa . Anggapan yang nampaknya sepele ini ternyata mampu menimbulkan diskriminasi dan kecemburuan yang disangkutpautkan banyak hal, terutama .

[media-credit id=”1″ align=”aligncenter” width=”960″]Dunia[/media-credit]

Berdasarkan pernyataan Ibu Herawati Sudoyo selaku Deputi Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, dalam wawancaranya dengan Tempo Media, adalah orang yang menghuni suatu kawasan sejak lama, sementara penduduk yang saat ini mendiami berasal dari beberapa titik migrasi. Kita semua bersaudara dan gak ada darah yang murni.

  • Beberapa dari kamu yang sering mengaku sebagai orang asli sering gak sadar bahwa seluruh suku yang ada di sebenarnya termasuk bangsa pendatang, sesuai bukti prasejarah yang ada

[media-credit id=”1″ align=”aligncenter” width=”1000″]People[/media-credit]

modern baru masuk ke tanah pada Era Pleistosen. Nah, pendatang ini terbagi menjadi dua , yaitu Melanesia dan Austronesia. Orang Melanesia datang sejak 50.000 lalu. Melanesia mayoritas berasal dari dan biasanya bermata biru, menandakan bahwa sebenarnya hampir gak ada satupun dari kita saat ini yang merupakan “” sejak awal, kecuali campuran dan gennya telah berkembang.

Migrasi kedua sekitar 16.000-35.000 lalu dari Indocina masuk ke lewat jalur darat. Setelah itu disusul orang Austronesia sekitar 4.000 lalu dari Formosa ke bagian barat dan timur . Akhirnya mereka semua berkembang menjadi berbagai suku yang kita kenal saat ini.

  • Jauh setelah Austronesia dan berbagai variasi di dalamnya, datanglah tiga bangsa ke secara berurutan, yaitu: , kemudian

[media-credit id=”1″ align=”aligncenter” width=”1024″]Asia[/media-credit]

Pada ke-3 sampai sekitar 2000 lalu, masyarakat di menjalin hubungan dengan lewat perdagangan logam dan rempah-rempah. Dari sinilah kebudayaan dalam -Buddha masuk ke .

Trending sekarang :
Film Kisah Masa Kecil Ganjar Pranowo

[media-credit id=”1″ align=”aligncenter” width=”700″]Cheng Ho[/media-credit]

Setelah itu, menjalin hubungan dengan selatan. Berdasarkan dari Paguyuban Nasional Marga , 907, I Ching, seorang Bhiksu Buddha berkelana lewat laut ke dan . Menurut catatan I Ching, ketika ia ke sana sudah ditemukan koloni orang di Tuban, Gresik, Jepara, Lasem dan Banten (menandakan telah ada orang sebelumnya). Pada ke-15 (Masa Ming) sekitar 1407, kedatangan Laksamana yang mendarat di Sambas dan Palembang, kemudian membangun peradaban di tempat-tempatnya berkelana. Laksamana berlayar ke dengan tujuan menjalin persahabatan, alih , perdagangan dan penyebaran . Di 1474, dikenallah wali songo yang lima di antaranya merupakan campuran etnis melanjutkan penyebaran di .

[media-credit id=”1″ align=”aligncenter” width=”1024″]World[/media-credit]

Bangsa pun secara perlahan datang menjalin sama perdagangan. Tahukah kamu ternyata hubungan antar ini menghasilkan banyak perkawinan silang. Orang-orang asing ini pun bisa jadi adalah generasi leluhur di atas kita yang tercampur darah dan gennya satu sama lain. terbaru menyatakan, gen masyarakat Indonesia saat ini adalah 74 persen Tenggara dan Oseania, 9 persen Selatan, 5 persen Timur, 6 persen dan 6 persen .

  • Baik itu keturunan Austronesia maupun “pendatang” semua telah berbaur dan menciptakan generasi baru sebagai satu keutuhan , kemudian persatuan tersebut dipecahkan oleh bangsa kolonial asal yang mendoktrin istilah “

[media-credit id=”1″ align=”aligncenter” width=”960″]Orang[/media-credit]

Mulanya orang Nusantara dan “pendatang” hidup berdampingan dengan damai. Sayangnya mulai menggolongkan dan membedakan orang satu sama lain berdasarkan asal usul etnisnya. Secara kasar, orang menempatkan diri sebagai yang paling atas secara kehormatan dan kedudukan, disusul oleh orang-orang Timur seperti , dan . Sementara orang-orang yang mereka sebut “pribumi” ditempatkan dalam posisi yang paling bawah.

Alhasil masyarakat Nusantara yang merupakan “campuran” turut menderita karena gak jelas masuk mana. Perpecahan ini dilahirkan bangsa kolonial untuk membuat kekuatan masyarakat Nusantara melemah. Walau bangsa kolonial menggoyahkan mereka dalam pelevelan, beberapa dari mereka tetap bersatu untuk melakukan banyak perlawanan. Meski akhirnya gagal karena gak semuanya bersatu sebagai Nusantara seutuhnya dan masih termakan paham perbedaan yang ditanamkan bangsa kolonial.

  • Para pejuang kemerdekaan Indonesia telah berupaya membuat mengakui bahwa siapapun yang bertempat tinggal, berbudaya dan berbahasa Indonesia adalah Warga Indonesia

[media-credit id=”1″ align=”aligncenter” width=”636″]Suku[/media-credit]

Trending sekarang :
Astronomi

Hal tersebut memang dirusak kembali di rezim orde baru, tapi kembali dipersatukan oleh . Menjelang masa kemerdekaan, tokoh seperti Tjiptomangunkusumo, Amir Syarifudin dan Soekarno memperjuangkan agar masyarakat Nusantara dan “ kedua” diperhitungkan sebagai orang Indonesia tanpa terkecuali. Dengan catatan, mereka sudah berbudaya, menetap dan berbahasa Indonesia. Menyedihkannya, konsep persatuan ini cuma bertahan sampai 1965 akibat di era orde baru digolongkan lagi antara “pribumi” dan “”. Akibatnya orang-orang yang berbudaya “campuran” sesuai etnisnya harus beradaptasi dalam level ekstrem, misalnya sampai perlu mengganti namanya. Akhirnya dalam 30 , rezim orde baru berakhir. Konsep “pribumi” dan “” dihapuskan oleh karena itu adalah diskriminasi. Itu berlaku hingga saat ini. Jadi, sekarang sudah gak waktunya lagi meributkan soal asal usul dan perbedaan satu sama lain.

Mengingat bahwa semua yang tinggal, berbudaya dan berbahasa Indonesia adalah Warga Indonesia, maka sudah gak zamannya lagi kita mempermasalahkan “pribumi” dan “”. Seperti yang sudah dijelaskan, karena gak satupun dari kita adalah penghuni asli atau darah murni sejak awal Nusantara ada.

Jadi, jangan lagi berpikiran kuno atau primitif seperti itu ya. Tanpa perlu mengadakan Sumpah Pemuda lagi, mari kita bersama berjuang mengharumkan nama Indonesia, gak peduli siapapun kita dan apapun latar belakang kita. Hidup Indonesia! #SatuIndonesia.

 

Content Protection By Dmca.com

Post Disclaimer

Informasi yang terkandung dalam pos ini hanya untuk keperluan informasi umum. Informasi ini disediakan oleh Asal Usul Orang Pribumi Indonesia dan sementara kami berusaha untuk menjaga agar informasi tetap terbaru dan benar, kami tidak membuat pernyataan atau jaminan dalam bentuk apa pun, tersurat maupun tersirat, tentang kelengkapan, keakuratan, keandalan, kesesuaian, atau ketersediaan dengan menghormati situs web atau informasi, produk, layanan, atau gambar terkait yang terdapat pada pos untuk tujuan apa pun. 101 Portal Education News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini