Waktu Baca: 3 Menit
Bagaimana reaksi anda ?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
Bisakah Negara Mencetak Uang untuk Membayar Hutang e1589021920413
You have reacted on "Bisakah Negara Mencetak untuk Membayar " A few seconds ago

Bisakah Negara Mencetak untuk Membayar , logikanya begini : Bayangkan sebuah pizza berukuran sedang yang dibagi menjadi empat bagian. Sekarang bayangkan bila pizza tersebut dibagi menjadi delapan bagian. Mana pizza yang akan lebih membuat Anda kenyang ? Jawabannya: tidak ada. Salah satu pizza tidak akan membuat Anda lebih kenyang dari pizza yang lain. Anda perlu membeli pizza yang berukuran lebih besar untuk membuat perut Anda kenyang. Sama halnya dengan . Perlu adanya pertumbuhan ekonomi yang lebih besar agar nilai meningkat. Sedangkan mencetak sendiri secara terus-menerus tanpa menumbuhkan nilainya justru akan membuat nilai Anda berkurang dari sebelumnya.

Mari kita lihat contoh lain. Bila hari ini Anda membeli sebotol air mineral seharga 1000 koin dan esok hari negara ini mencetak rupiah dua kali lipat lebih banyak, maka harga sebotol air tadi akan menjadi 2000 koin. Bila negara ini mencetak uangnya empat kali lebih banyak, maka harga sebotol air tadi akan menjadi 4000 koin. Inilah yang disebut dengan . Bank pusat suatu negara selalu berusaha untuk menjaga agar harga sebotol air tadi tetap pada 1000 koin dan bila harga tersebut naik, kenaikannya akan terjadi sedikit seiring dengan pendapatan masyarakatnya. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga indeks konsumen dan daya beli.

Trending sekarang :  NABI ISA (6 SM - 30 M)

Dua hal di atas merupakan analogi dan contoh hal yang biasa terjadi dalam suatu negara dari waktu ke waktu karena nilai mata berubah seusai dengan supply dan demand dari pasar. Ditambah, di setiap detik, nilai sebuah barang pun dapat memengaruhi perubahan harganya. Anda harus mengingat bahwa pada dasarnya tidak memiliki arti (worthless). hanyalah selembar kertas atau sebuah koin yang bertuliskan nilai tertentu. Nilai tersebut baru memiliki arti bila ia dapat memberikan Anda sesuatu: menukarnya dengan makanan, , dll. Bila sebuah negara miskin ingin membeli sesuatu dari negara kaya, maka akan ada nilai tukar. Bila terus-terusan dicetak untuk membayar nilai tukar tersebut, maka akan terjadi (ingat contoh sebotol air tadi?) dan nilai tersebut akan berkurang dan nilai tukarnya akan menjadi amat jelek.

berarti peningkatan harga dan jasa secara terus-menerus akibat meningkatnya suplai dan disirkulasikan dalam suatu negara. Pada dasarnya bukanlah hal buruk, merupakan pertanda bahwa ekonomi dalam negara tersebut produktif dan tumbuh dengan subur. Lebih banyak barang dan jasa yang diproduksi dan disalurkan, adanya peningkatan dalam lapangan pekerjaan sekaligus upah pekerja. Namun bila tidak terkendali, yaitu ketika harga-harga barang dan kebutuhan pokok naik dan nilai mata uangnya menurun secara drastis, maka akan terjadi apa yang telah kami sebut dengan . Kasus ekstrem ini muncul saat terjadi perubahan sistem mata maupun meningkatnya persediaan secara drastis dalam suatu negara.

Trending sekarang :  Edukasi Penyebaran Virus Corona ke Anak

Kondisi ini biasanya lekat dengan pasca peperangan, depresi ekonomi, serta kondisi sosial politik yang tidak stabil dalam suatu negara. Indonesia pun pernah mengalaminya di antara tahun 1963-1965. Pemerintah pada masa tersebut mencetak rupiah secara terus-menerus untuk membayar negara sekaligus mendanai proyek-proyek mercusuar yang merupakan ambisi Presiden Soekarno. Hasilnya, Indonesia mengalami hingga 600% dan melakukan redenominasi alias pemotongan nilai rupiah pada akhir tahun 1965 sebagai salah satu solusi agar tersebut tidak berubah menjadi .

Jerman disalahkan karena dianggap memulai Perang I, sehingga mereka harus membayar biaya kerusakan dan perbaikan yang dialami oleh musuh-musuhnya. Jumlahnya mencuat hingga $33 milyar dolar atau setara dengan 132 milyar mata Jerman.

Tentu Jerman tidak memiliki sebanyak itu. Lantas apa yang mereka lakukan? Mereka mencetak mata uangnya sebanyak mungkin dan besar-besar tidak dapat dihindari sesudahnya. Mata mereka menjadi tidak ada harganya. Pada masa tersebut, seseorang dapat membawa sekoper mata Jerman dan belum tentu sanggup menggunakannya untuk membeli roti.

Trending sekarang :  Edukasi Virus Corona atau COVID-19

Antara tahun 2002-2005, Zimbabwe mengalami akibat mencetak terus-menerus untuk membayar sebagian besar negaranya dengan mata setempat. Anda bisa mencari gambar selembar kertas yang dicetak oleh pemerintah Zimbabwe pada masa tersebut dan Anda akan menemukan yang bertuliskan nilai 100 trilyun dolar Zimbabwe. Hal ini tentunya hanya meningkatkan dan menambah kekacauan pada negara tersebut. Bayangkan, untuk sekadar mengganti ban sepeda, seseorang akan dikenai biaya 300 trilyun dolar Zimbabwe.

Pencetakan ini membuat penduduk Zimbabwe menjadi sangat miskin. Pada tahun 2008, harga kebutuhan pokok meningkat setiap harinya dengan yang pada akhirnya mencapai 89,7 sextillion persen. Pada akhir tahun tersebut, dolar Zimbabwe hancur dan tidak dapat lagi dipergunakan karena mata tersebut tidak bernilai. Satu-satunya cara agar negara miskin dapat menjadi kaya adalah dengan memroduksi nilai, baik nilai maupun nilai produksi. Mereka harus dapat mengukur populasinya dan bagaimana mereka dapat bekerja secara produktif untuk membuat hal ini terjadi. Dengan cara apa? Hal tersebut tentunya bergantung pada masing-masing negara, apa yang menjadi kekuatan negara mereka, apa komoditas terbesarnya, karakter masyarakatnya, dsb.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini