Waktu Baca: 5 Menit
Bagaimana reaksi anda ?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
You have reacted on " (563 SM – 483 SM)" A few seconds ago

nama aslinya pangeran pendiri , salah satu dari terbesar di dunia. Putra raja Kapilavastu, timur laut . berbatasan dengan Nepal. sendiri (marga dari suku Sakya) konon lahir di Lumbini yang kini termasuk wilayah negara Nepal. Kawin pada umur enam belas tahun dengan sepupunya yang sebaya. Dibesarkan di dalam istana mewah, pangeran tak betah dengan hidup enak berleha-leha, dan dirundung rasa tidak puas yang amat. Dari jendela istana yang gemerlapan dia menjenguk ke luar dan tampak olehnya orang-orang miskin terkapar di jalan-jalan, makan pagi sore tidak, atau tidak mampu makan sama sekali. Hari demi hari mengejar kebutuhan hidup yang tak kunjung terjangkau bagai seikat gandum di gantung di moncong keledai. Tarolah itu yang gembel. Sedangkan yang berpunya pun sering kehinggapan rasa tak puas, waswas gelisah, kecewa dan murung karena dihantui serba penyakit yang setiap waktu menyeretnya ke liang lahat. berpikir, keadaan ini mesti dirobah. Mesti terwujud makna hidup dalam arti kata yang sesungguhnya, dan bukan sekedar kesenangan yang bersifat sementara yang senantiasa dibayangi dengan penderitaan dan kematian.

Tatkala berumur dua puluh sembilan tahun, tak lama sesudah putra pertamanya lahir, mengambil keputusan dia mesti meninggalkan kehidupan istananya dan mengharnbakan diri kepada upaya mencari kebenaran sejati yang bukan sepuhan. Berpikir bukan sekedar berpikir, melainkan bertindak. Dengan lenggang kangkung dia tinggalkan istana, tanpa membawa serta anak-bini, tanpa membawa barang dan harta apa pun, dan menjadi gelandangan dengan tidak sepeser pun di kantong. Langkah pertama, untuk sementara waktu, dia menuntut ilmu dari orang-orang bijak yang ada saat itu dan sesudah merasa cukup mengantongi ilmu pengetahuan, dia sampai pada tingkat kesimpulan pemecahan masalah ketidakpuasan manusia.

Umum beranggapan, bertapa itu jalan menuju kearifan sejati. Atas dasar anggapan itu mencoba menjadi seorang pertapa, bertahun-tahun puasa serta menahan nafsu sehebat-hebatnya. Akhirnya dia sadar laku menyiksa diri ujung-ujungnya cuma mengaburkan pikiran, dan bukannya malah menuntun lebih dekat kepada kebenaran sejati. Pikir punya pikir, dia putuskan mendingan makan saja seperti layaknya manusia normal dan stop bertapa segala macam karena perbuatan itu bukan saja tidak ada gunanya melainkan bisa bikin badan kerempeng, loyo, mata kunang-kunang, ngantuk, linu, bahkan juga mendekati bego. Dalam kesendirian yang tenang tenteram dia bergumul dengan perikehidupan problem manusiawi. Akhirnya pada suatu malam, ketika dia sedang duduk di bawah sebuah pohon berdaun lebar dan berbuahkan semacarn bentuk buah pir yang sarat biji segala macam, maka berdatanganlah teka-teki masalah hidup seakan berjatuhan menimpanya. Semalam suntuk merenung dalam-dalam dan ketika mentari merekah di ufuk timur dia tersentak dan berbarengan yakin bahwa terpecahkan sudah persoalan yang rumit dan dia pun mulai saat itu menyebut dirinya “orang yang diberi penerangan.”

Trending sekarang :  Cara Membuat Website Wordpress

Pada saat itu umurnya menginjak tiga puluh lima tahun. Sisa umurnya yang empat puluh lima tahun dipergunakannya berkelana sepanjang bagian utara, menyebarkan barunya di depan khalayak siapa saja yang sudi mendengarkan. Saat dia wafat, tahun 483 sebelum , sudah ratusan ribu pemeluk ajarannya. Meskipun ucapan-ucapannya masih belum ditulis orang tapi petuah-petuahnya dihafal oleh banyak pengikutnya di luar kepala, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya lewat mulut semata.

Pokok ajaran dapat diringkas di dalam apa yang menurut istilah penganutnya “Empat kebajikan kebenaran:” pertama, kehidupan manusia itu pada dasarnya tidak bahagia; kedua, sebab-musabab ketidakbahagiaan ini adalah memikirkan kepentingan diri sendiri serta terbelenggu oleh nafsu; ketiga, pemikiran kepentingan diri sendiri dan nafsu dapat ditekan habis bilamana segala nafsu dan hasrat dapat ditiadakan, dalam ajaran disebut nirvana; keempat, menimbang benar, berpikir benar, berbicara benar, berbuat benar, cari nafkah benar, berusaha benar, mengingat benar, meditasi benar. Dapat ditarnbahkan itu terbuka buat siapa saja, tak peduli dari ras apa pun dia, (ini yang membedakannya dengan Hindu).

Beberapa saat sesudah wafat baru ini merambat pelan. Pada abad ke-3 sebelum , seorang kaisar yang besar kuasa bernama Asoka menjadi pemeluk . Berkat dukungannya, penyebaran melesat deras, bukan saja di tapi juga di Birma. Dari sini agarna itu menjalar ke seluruh Asia Tenggara, ke Malaysia dan Indonesia. Angin penyebaran pengaruh itu bukan cuma bertiup ke selatan melainkan juga ke utara, menerobos masuk , ke Afghanistan dan Asia Tengah. Tidak sampai situ. Dia mengambah dan merenggut pengaruh yang bukan buatan besarnya dan dari sana menyeberang ke Jepang dan Korea. Sedangkan di sendiri baru itu mulai menurun pengaruhnya sesudah sekitar tahun 500 malahan nyaris punah di tahun 1200. Sebaliknya di dan di Jepang, tetap bertahan sebagai pokok. Begitu pula di dan Asia Tenggara itu mengalami masa jayanya berabad-abad.

Trending sekarang :  Asal Usul Orang Pribumi Indonesia

Ajaran-ajaran tidak tertulis hingga berabad-abad sesudah wafatnya . Karena itu mudahlah dimaklumi mengapa itu terpecah-pecah ke dalam pelbagai sekte. Dua cabang besar adalah cabang Theravada-pengaruhnya terutama di Asia Tenggara dan menurut anggapan sebagian besar sarjana-sarjana Barat cabang inilah yang paling mendekati ajaran-ajaran yang asli-. Cabang lainnya adalah Mahayana, bobot pengaruhnya terletak di , dan juga di Asia Tenggara secara umum. , selaku pendiri salah satu terbesar di dunia, jelas layak menduduki urutan tingkat hampir teratas dalam daftar buku ini. Karena jumlah pemeluk tinggal 200 juta dibanding dengan pemeluk Islam yang 500 juta banyaknya dan satu milyar pemeluk , dengan sendirinya pengaruh lebih kecil ketimbang atau . Akan tetapi, beda jumlah penganut -jika dijadikan ukuran yang keliwat ketat- bisa juga menyesatkan. Misalnya, matinya atau merosotnya di bukan merosot sembarang merosot melainkan karena Hindu sudah menyerap banyak ajaran dan prinsip-prinsip ke dalam tubuhnya. Di pun, sejumlah besar penduduk yang tidak lagi terang-terangan menyebut dirinya penganut dalam praktek kehidupan sehari-hari sebenarnya amat di pengaruhi oleh .

Trending sekarang :  Behind the Curve Eksperimen Bumi Datar Gagal

, jauh mengungguli baik Islam maupun , punya anasir pacifis yang amat menonjol. Pandangan yang berpangkal pada tanpa kekerasan ini memainkan peranan penting dalam sejarah politik negara-negara berpenganut . Banyak orang bilang bila suatu saat kelak turun kembali ke bumi dia akan melongo kaget melihat segala apa yang dilakukan orang atas namanya, dan akan cemas atas pertumpahan darah yang terjadi dalam pertentangan antar sekte yang saling berbeda pendapat yang sama-sama mengaku jadi pengikutnya. Begitu juga akan terjadi pada diri . Dia tak bisa tidak akan ternganga-nganga menyaksikan begitu banyaknya sekte-sekte yang bertumbuhan di mana-mana, saling berbeda satu sama lain walau semuanya mengaku pemeluk . Narnun, bagaimanapun semrawutnya sekte-sekte yang saling berbeda itu tidaklah sarnpai menimbulkan perang berdarah seperti terjadi di dunia Eropa. Dalam hubungan ini, paling sedikit berarti ajaran tampak jauh mendalam dihayati oleh pemeluknya ketimbang ajaran-ajaran dalarn kaitan yang sama.

dan kira-kira punya pengaruh setaraf terhadap dunia. Keduanya hidup di kurun waktu yang hampir bersamaan, dan jumlah pengikutnya pun tak jauh beda. Pilihan saya menempatkan nama lebih dulu daripada dalam urutan disandarkan atas dua pertimbangan: pertama, perkembangan Komunisme di nyaris menyapu habis pengaruh Kong Hu -Cu, sedangkan tampaknya masa depan masih lebih banyak celah dan pengaruh ketimbang dalam ; kedua, kegagalan ajaran menyebar luas ke luar batas menunjukkan betapa erat taut bertautnya ajaran dengan sikap dan tata cara jaman lama. Sebaliknya, ajaran tak ada mengandung pernyataan ulangan atau mengunyah-ngunyah terdahulu, dan menyebar melangkah batas pekarangan negerinya -- bersandarkan gagasan tulen serta jangkauan luas filosofinya.

Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart, 1978
Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini