Waktu Baca: 4 Menit
Bagaimana reaksi anda ?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
You have reacted on "Ciri-Ciri Berita " A few seconds ago

Berita atau berita atau berita (bahasa Inggris: ) adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Hal ini tidak sama dengan rumor, ilmu semu, maupun April Mop.

Menurut KBBI, mengandung makna berita , berita tidak bersumber. Menurut Silverman (2015), merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, tetapi “dijual” sebagai kebenaran. Menurut Werme (2016), mendefiniskan sebagai berita yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda tertentu. bukan sekadar misleading alias menyesatkan, informasi dalam juga tidak memiliki landasan faktual, tetapi disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.

  • Jenis misinformasi dan disinformasi
    1. Satire atau Parodi, dibuat dengan tidak berniat untuk merugikan, tetapi berpotensi untuk mengelabui.
    2. Konten yang Menyesatkan, di dalamnya biasanya ada penggunaan informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu atau individu.
    3. Konten Tiruan, Ini adalah ketika sebuah sumber asli ditiru / diubah untuk mengaburkan fakta sebenarnya.
    4. Konten , berupa konten baru yang 100% salah dan secara sengaja dibuat, didesain untuk menipu serta merugikan.
    5. Keterkaitan yang Salah, Ini adalah ketika judul, gambar, atau keterangan tidak mendukung konten atau tidak terakat antara satu dengan yang lainnya.
    6. Konten yang Salah, ketika konten yang asli dipadankan atau dikait-kaitkan dengan konteks informasi yang salah.
    7. Konten yang Dimanipulasi, ketika informasi atau gambar yang asli sengaja dimanipulasi untuk menipu.
  1. Agama, konten yang memuat segala hal yang berkaitan dengan ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan dan peribadatan kepada Tuhan yang maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
  2. , konten yang memuat segala hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan negara, pembagian kekuasaan, berupa kebijakan atau cara-cara mempertahankan kekuasaan.
  3. Etnis, konten yang berkaitan dengan segala hal mengenai kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, suku, bahasa, budaya dan sebagainya.
    Kesehatan, konten yang memuat segala hal yang berkaitan dengan keadaan sehat jasmani maupun rohani.
  4. Bisnis, konten yang memuat tentang segala usaha komersial.
    Penipuan, konten yang memuat segala hal yang berkaitan dengan upaya mengecoh yang mengakibatkan kerugian di pihak yang dikecoh baik berupa uang atau data pribadi.
  5. Bencana alam, konten yang memuat hal-hal yang terkait kejadian alam yang memakan korban.
  6. Kriminalitas, konten yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan tindak kejahatan
    Lalu lintas, konten yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan lalu lintas, baik itu berupa kebijakan atau insiden.
  7. Peristiwa ajaib, konten yang memuat kejadian yang tidak lazim dan mustahil.
    Lain-lain, konten lain yang tidak termasuk dalam kesepuluh kategori tersebut.

Berbagai cara telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat yang peduli dengan maraknya di kehidupan masyarakat. Pemerintah misalnya telah membuat pagar hukum dengan menyetujui lahirnya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektonik, memblokir situs-situs yang menyebarkan , menangkap sindikat penyebar hingga membentuk lembaga siberkreasi yang berfokus dalam menangani . Tidak hanya itu, masyarakat juga turut serta dalam menekan peredaran dengan memberikan klarifikasi terhadap . Diantaranya adalah Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) yang secara aktif dan peduli memberikan klarifikasi akan hingga melakukan literasi media, baik dikalangan masyarakat hingga jurnalis. Lantas muncul pertanyaan, sebenarya faktor apa saja yang mempengaruhi masih terus ada dan berkembang. Berikut beberapa alasan tetap ada.

    • Jurnalisme yang lemah, jurnalisme yang lemah membuat konten terus berkembang karena tidak terbiasa dengan proses verifikasi, cek dan recheck. Peran media profesional yang seharusnya membawa kecerahan dalam sebuah persoalan yang simpang siur di masyarakat semakin lama semakin tergerus.
    • Ekonomi, Faktor ekonomi yang lemah membuat peredaran hoak terus ada. Bagaimana tidak, dengan memproduksi atau mengarang berita seseorang bisa mendapatkan penghasilan yang dapat mendokrak ekonominya.
    • , kemunculan semakin memperparah sirkulasi di . Sama seperti meme, keberadaannya sangat mudah menyebar lewat media-media sosial. Apalagi biasanya konten memiliki isu yang tengah ramai di masyarakat dan menghebohkan, yang membuatnya sangat mudah memancing orang membagikannya.
    • Munculnya media abal-abal, kemunculan media abal-abal sama sekali tak menerapkan standar jurnalisme. Keadaan ini tentu semakin memperburuk kualitas informasi yang tersebar di masyarakat.
    • , rendahnya kualitas membuat seseorang tidak bisa menyaring informasi yang diterimanya apalagi mencoba untuk bertindak kritis dengan membandingkan setiap informasi yang diterimannya dengan informasi yang ada di berbagai media mainstream.
    • Literasi media yang rendah, rendahnya literasi media membuat seseorang cenderung mempercayai sebuah informasi yang diterima, didapatkannya tanpa melakukan verifikasi. Rendahnya literasi media membuat seseorang cenderung untuk membagikan setiap informasi yang dapatkannya kepada orang lain tanpa mengetahui kebenaran dari sebuah informasi tersebut.
  • Produsen

Semua orang berpotensi sebagai pembuat . terkait dengan apa saja yang tidak benar adanya, tetapi dijual sebagai sebuah kebenaran dengan tujuan tertentu. Namun, ada beberapa kasus yang menujukkan bahwa diproduksi oleh beberapa kalangan seperti Saracen dan Cyber Army dengan motif tertentu. Saracen dan Cyber Army merupakan organisasi-organisasi penyebar , ujaran kebencian atau hate speech dan SARA melalui media sosial. Berdasarkan temuan polisi, anggota sindikat ini telah memiliki beragam konten ujaran kebencian sesuai isu yang tengah berkembang. Mereka kemudian menawarkan produk itu dalam sebuah proposal. Dalam satu proposal yang ditemukan, kurang lebih setiap proposal nilainya puluhan juta rupiah.

Trending sekarang :  Lapor Konten Hoaks Virus Corona di Portal Aduan Kominfo

Diketahui, Sindikat Saracen diketahui memiliki ribuan akun. Mereka juga berbagi tugas untuk mengunggah konten pro dan kontra terhadap suatu isu. “Misalnya kurang lebih 2.000 akun itu dia membuat meme menjelek-jelekkan Islam, ribuan lagi kurang lebih hampir 2.000 juga menjelek-jelekkan Kristen. Itu yang kemudian tergantung pemesanan.

Terkait masalah pemesanan itu, polisi menemukan ada salah satu proposal yang menawarkan senilai Rp 75 juta sampai Rp 100 juta. Meskipun demikian, polisi masih belum bisa memastikan harga pasti per proposal. Apalagi polisi masih terus menggali siapa saja yang pernah membeli jasa Saracen untuk menebar kebencian dan SARA.

Dari pengungkapan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa dipesan oleh sekelompok orang dengan beragam kepentingan didalamnya. diproduksi oleh orang-orang yang tidak bermoral dan beretikat buruk terhadap sesama.

Trending sekarang :  Apollo 11 : Batu Dengan Huruf C di Atasnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini