Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini ?
+1

+1

+1

+1

+1

+1

74 / 100

Skor SEO

Estimasi Waktu Baca: 12 menit

Gagasan pentingHubungan antara Islam dan Filsafat, keselarasan akal dan wahyu, kesatuan akal
Gagasan penting Hubungan antara dan Filsafat, keselarasan akal dan wahyu, kesatuan akal

Ibnu Rusyd (bahasa : ابن رشد‎; Nama lengkap bahasa : أبو الوليد محمد ابن احمد ابن رشد, translit. Abu Al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd‎; 1126 – 11 Desember 1198), sering dilatinkan sebagai Averroes, adalah seorang filsuf dan pemikir dari Al-Andalus yang menulis dalam bidang disiplin ilmu, termasuk filsafat, akidah atau teologi Islam, kedokteran, astronomi, fisika, atau hukum Islam, dan linguistik. Karya-karya filsafatnya termasuk banyak tafsir, parafrase, dan ringkasan karya-karya Aristoteles, yang membuatnya dijuluki oleh dunia barat sebagai “Sang Penafsir” (Bahasa Inggris: The Commentator). Ibnu Rusyd juga semasa hidupnya mengabdi sebagai hakim dan dokter istana untuk Kekhalifahan Muwahhidun.

Ibnu Rusyd lahir di Kordoba dari keluarga yang melahirkan hakim-hakim terkenal; kakeknya adalah qadhi al-qudhat (hakim kepala) dan ahli hukum terkenal di kota itu. Pada tahun 1169 ia bertemu dengan khalifah Abu Yaqub Yusuf, yang terkesan dengan pengetahuan Ibnu Rusyd. Sang khalifah kemudian mendukung Ibnu Rusyd dan banyak karya Ibnu Rusyd adalah proyek yang ditugaskannya. Ibnu Rusyd juga beberapa kali menjabat sebagai hakim di Sevilla dan Kordoba. Pada 1182, ia ditunjuk sebagai dokter istana dan hakim kepala di Kordoba. Setelah wafatnya Abu Yusuf pada tahun 1184, ia masih berhubungan baik dengan istana, hingga 1195 saat dia dikenai berbagai tuduhan dengan motif . Pengadilan lalu memutuskan bahwa ajarannya sesat dan Ibnu Rusyd diasingkan ke Lucena. Setelah beberapa tahun di pengasingan, istana memanggilnya bertugas kembali, tetapi tidak berlangsung lama karena Ibnu Rusyd wafat.

Ibnu Rusyd adalah pendukung ajaran filsafat Aristoteles (). Ia berusaha mengembalikan filsafat dunia Islam ke ajaran Aristoteles yang asli. Ia mengkritik corak Neoplatonisme yang terdapat pada filsafat pemikir-pemikir Islam sebelumnya seperti dan Ibnu Sina, yang ia anggap menyimpang dari filsafat Aristoteles. Ia membela kegiatan berfilsafat dari kritik yang dilancarkan para Asy’ariyah seperti Al-Ghazali. Ibnu Rusyd berpendapat bahwa dalam agama Islam berfilsafat hukumnya boleh, bahkan bisa jadi wajib untuk kalangan tertentu. Ia juga berpendapat bahwa teks Quran dan Hadis dapat diinterpretasikan secara tersirat atau kiasan jika teks tersebut terlihat bertentangan dengan kesimpulan yang ditemukan melalui akal dan filsafat. Dalam bidang fikih, ia menulis Bidayatul Mujtahid yang membahas perbedaan mazhab dalam hukum Islam. Dalam kedokteran, ia menghasilkan gagagan baru mengenai fungsi retina dalam penglihatan, penyebab strok, dan gejala-gejala penyakit Parkinson, serta menulis yang kelak diterjemahkan menjadi sebuah teks standar di Eropa.

Pengaruh Ibnu Rusyd ke dunia Barat jauh lebih besar dibanding dunia Islam. Ibnu Rusyd menulis banyak tafsir terhadap karya-karya Aristoteles, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani dan bahasa Latin dan beredar di Eropa. Terjemahan karya-karya Ibnu Rusyd memicu para pemikir Eropa Barat untuk kembali mengkaji karya-karya Aristoteles dan pemikir Yunani lainnya, setelah lama diabaikan sejak jatuhnya kekaisaran Romawi. Pendapat-pendapat Ibnu Rusyd juga menimbulkan kontroversi di dunia Kristen Latin, dan menginspirasi sebuah gerakan filsafat yang disebut Averroisme. Salah satu doktrinnya yang kontroversial di dunia Barat adalah teori yang disebut “kesatuan akal” (unitas intellectus dalam bahasa Latin), yang menyatakan bahwa semua manusia bersama-sama memiliki satu akal atau “intelek”. Karya-karyanya dinyatakan sesat oleh Gereja Katolik Roma pada tahun 1270 dan 1277, dan pemikir Kristen Thomas Aquinas menulis kritik-kritik tajam terhadap doktrin Ibnu Rusyd. Sekalipun demikian, Averroisme tetap memiliki pengikut di dunia Barat hingga abad ke-16.

Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd lahir pada tahun 1126 M/520 H di Kordoba, yang ketika itu merupakan wilayah kerajaan Murabithun. Keluarga Ibnu Rusyd dikenal sebagai tokoh masyarakat di Kordoba, terutama atas peran mereka dalam bidang hukum dan agama. Kakek Ibnu Rusyd, yang juga bernama Abu al-Walid Muhammad (wafat 1126) menjabat qadhi al-qudhat (hakim kepala) di kota tersebut, dan juga merupakan imam Masjid Agung Kordoba. Ayahnya, Abu al-Qasim Ahmad, juga menjabat sebagai kadi atau hakim pada masa kekuasaan Murabithun, hingga Kordoba jatuh ke tangan Kekhalifahan Muwahidun.

Menurut biografi-biografi klasik, Ibnu Rusyd menerima pendidikan yang istimewa, dimulai dari pelajaran ilmu Hadis, fikih (hukum Islam), kedokteran maupun ilmu akidah (teologi Islam). Guru fikihnya adalah Al-Hafiz Abu Muhammad ibn Rizq yang bermazhab Maliki dan guru hadisnya adalah Ibnu Basykuwal, yang merupakan murid dari kakeknya. Ia juga belajar fikih dari ayahnya, yang mengajarkannya kitab Muwatta karya Imam Malik, buku teks Maliki yang paling terkenal, yang kemudian dihafalkan oleh Ibnu Rusyd. Guru kedokterannya adalah Abu Jafar Jarim at-Tajail, yang kemungkinan juga mengajarkannya ilmu filsafat. Ia juga mempelajari karya-karya dari Ibnu Bajjah (juga dikenal dengan nama Avempace) yang mungkin juga merupakan salah satu gurunya. Ia mengikuti pertemuan rutin para filsuf, dokter dan sastrawan di kota Sevilla, yang juga dihadiri oleh filsuf Ibnu Thufail dan Ibnu Zuhri serta Abu Yusuf Yaqub yang kelak akan menjadi khalifah. Ibnu Rusyd muda juga mempelajari akidah atau teologi kalam dari Mazhab Asy’ariyah, walaupun kelak ia akan mengkritik mazhab ini. Menurut penulis abad ke-13 Ibnu al-Abbar, Ibnu Rusyd lebih tertarik dengan ilmu hukum dan ushul fiqh (kaidah-kaidah hukum) dibanding ilmu hadis dan sunnah. Salah satu spesialisasi yang ditekuninya adalah masalah ikhtilaf atau perbedaan pendapat dalam hukum Islam. Ibnu Al-Abbar juga menyebutkan ketertarikan Ibnu Rusyd muda pada “ilmu-ilmu orang terdahulu” (al-‘ulum al-awa’il), yang kemungkinan maksudnya adalah ilmu alam dan filsafat yang dikembangkan para ilmuwan Yunani.

    • Karier
Ibnu Rusyd memegang berbagai jabatan pemerintah di Kekhalifahan Muwahhidun, yang menguasai sebagian wilayah Spanyol dan Maghrib
Ibnu Rusyd memegang berbagai jabatan pemerintah di Kekhalifahan Muwahhidun, yang menguasai sebagian wilayah Spanyol dan Maghrib

Pada tahun 1147, gerakan Muwahhidun yang dipimpin oleh Ibnu Tumart (yang menyebut dirinya sebagai al-Mahdi) menggulingkan kekuasaan Murabithun di ibu kota Marrakesh, dan tak lama kemudian Al-Andalus juga jatuh ke tangan Muwahhidun. Setelah berkuasa, gerakan Muwahhidun mendeklarasikan sebuah kekhalifahan. Selain dikenal dengan misinya untuk memurnikan ajaran tauhid atau keesaan Tuhan, Ibnu Tumart dan para pemimpin Muwahhidun juga ingin agar masyarakat umum lebih mengenal syariah atau hukum Islam. Bersamaan dengan ini, pemerintahan Muwahhidun banyak menggalakkan berbagai bidang ilmu seperti filsafat, fikih dan akidah.

Hot News :  Lapor Konten Hoaks Virus Corona di Portal Aduan Kominfo

Pada tahun 1153, Ibnu Rusyd melakukan pengamatan astronomi di Marrakesh dan membantu pembangunan perguruan-perguruan tinggi yang sedang dilakukan pemerintah. Ia berusaha mencari hukum-hukum fisika yang mengendalikan pergerakan benda-benda langit, tetapi penelitian ini tidak berhasil. Pada saat itu ia kemungkinan pertama kali bertemu dengan Ibnu Thufail, filsuf terkenal dan penulis novel Hayy ibn Yaqzhan, yang saat itu menjabat sebagai dokter istana. Ibnu Rusyd dan Ibnu Thufail kelak berteman, walaupun mereka kadang berselisih dalam masalah filsafat.

Pada tahun 1169, Ibnu Thufail memperkenalkan Ibnu Rusyd kepada Khalifah Abu Yaqub Yusuf. Menurut laporan sejarawan Abdulwahid al-Marakisyi, pada pertemuan ini sang khalifah bertanya kepada Ibnu Rusyd apakah langit selalu ada sejak dahulu (qadim) atau memiliki awal mula (hadits). Ketika itu, topik ini adalah topik kontroversial dan Ibnu Rusyd awalnya tidak menjawab karena takut memancing bahaya dan kontroversi. Sang khalifah lalu mengemukakan pendapat Plato, Aristoteles, dan para filsuf Muslim tentang topik ini dan mendiskusikannya dengan Ibnu Thufail. Melihat sang khalifah juga suka berfilsafat, Ibnu Rusyd menjadi tenang dan mengemukakan pendapatnya. Sang khalifah terkesan dengan pendapat Ibnu Rusyd, dan begitupun Ibnu Rusyd juga terkesan dengan pengetahuan sang khalifah dan kelak mengatakan bahwa Khalifah Abu Yaqub Yusuf memiliki “pengetahuan berlimpah yang tak saya duga”.

Sejak perkenalan ini, Ibnu Rusyd memiliki hubungan baik dengan Abu Yaqub Yusuf hingga khalifah tersebut wafat. Ketika sang khalifah mengeluh ke Ibnu Thufail bahwa karya-karya Aristoteles terlalu susah dimenegerti, Ibnu Thufail menyarankan agar Ibnu Rusyd ditugaskan untuk menerangkannya. Inilah awal dari proyek besar Ibnu Rusyd menulis tafsir karya-karya Aristoteles. Pada tahun 1169, Ibnu Rusyd menulis tafsir Aristoteles pertamanya.

Pada tahun yang sama, Ibnu Rusyd diangkat sebagai kadi di Sevilla. Dua tahun kemudian, ia menjadi kadi di Kordoba, kota kelahirannya. Tugasnya sebagai kadi adalah memutuskan kasus pengadilan dan memberikan fatwa atau pendapat hukum sesuai hukum Islam. Pada saat itu ia semakin aktif menulis, walaupun tugasnya semakin banyak dan mengharuskannya melakukan banyak perjalanan. Kesempatan mengunjungi berbagai tempat ia gunakan untuk melakukan penelitian astronomi. Antara 1169 dan 1179, banyak karyanya yang tercantum keterangan ditulis di Sevilla. Pada tahun 1179 ia kembali menjabat sebagai kadi di Sevilla. Pada tahun 1182 ia diangkat menjadi dokter istana untuk menggantikan Ibnu Thufail yang telah pensiun. Pada tahun yang sama ia juga diangkat sebagai hakim kepala di Kordoba, jabatan bergengsi yang sebelumnya pernah dipegang oleh kakeknya.

Walaupun pada sebagian besar hidupnya Ibnu Rusyd didukung pihak kekhalifahan, pada 1195 ia sempat diasingkan oleh Khalifah Yaqub al-Mansur.
Walaupun pada sebagian besar hidupnya Ibnu Rusyd didukung pihak kekhalifahan, pada 1195 ia sempat diasingkan oleh Khalifah Yaqub al-Mansur.

Pada tahun 1184, Khalifah Abu Yaqub wafat dan digantikan oleh Abu Yusuf Yaqub al-Mansur. Awalnya Ibnu Rusyd tetap memiliki hubungan baik dengan istana, dan tetap menjabat sebagai dokter istana tetapi pada 1195 situasinya berubah. Ia mendapat berbagai tuduhan, termasuk tuduhan mengajarkan aliran sesat, dan ia harus menghadapi pengadilan di Kordoba. Pengadilan memutuskan Ibnu Rusyd bersalah, menyatakan ajarannya sesat dan memerintahkan agar tulisan-tulisannya dibakar. Ibnu Rusyd diasingkan ke kota kecil Lucena, sebuah permukiman Yahudi yang berada di sekitar Kordoba. Biografi-biografi klasik menyebutkan berbagai sebab memburuknya situasi Ibnu Rusyd ini, salah satunya karena Ibnu Rusyd dianggap menghina khalifah dalam tulisannya. Namun para sejarawan modern menganggap bahwa perlakuan keras terhadap Ibnu Rusyd ini bermotif politik. Encyclopaedia of Islam menyebutkan bahwa khalifah berusaha menjauhkan dirinya dari Ibnu Rusyd untuk mendapat simpati dan dukungan dari para ulama tradisional yang banyak menentang ajaran Ibnu Rusyd. Pada saat itu, khalifah sedang butuh dukungan para ulama untuk melancarkan perang melawan kerajaan-kerajaan Kristen. Sejarawan Majid Fakhry menulis bahwa banyak fukaha atau ahli fikih tradisional pada saat itu menentang Ibnu Rusyd dan menekan sang khalifah.

Setelah beberapa tahun, Ibnu Rusyd kembali didukung khalifah dan ia bertugas lagi di istana kekhalifahan. Namun tak lama kemudian ia meninggal pada tanggal 11 Desember 1198 (atau 5 Safar 595 H). Awalnya ia dikuburkan di Maroko, tetapi kemudian jenazahnya dipindahkan ke Kordoba. Pemakamannya di Kordoba dihadiri oleh Ibnu Arabi (1165–1240) yang kelak akan menjadi tokoh sufi terkemuka.

  • Karya-karya

Ibnu Rusyd adalah penulis yang amat produktif dan tulisan-tulisannya mencakup banyak topik. Menurut Fakhry, karyanya “mencakup lebih banyak bidang ilmu” dibanding para pendahulunya di Dunia Timur. Bidang-bidang ilmu yang ia bahas di antaranya filsafat, kedokteran, teori hukum, serta linguistik. Kebanyakan tulisannya adalah tafsir atau uraian terhadap karya-karya Aristoteles, yang juga sering mengandung pemikiran baru dari Ibnu Rusyd sendiri. Menurut penulis Prancis Ernest Renan, selain tafsir-tafsir Aristoteles dan Plato Ibnu Rusyd menulis sedikitnya 67 buku yang merupakan karya baru (bukan tafsir), termasuk 28 buku mengenai filsafat, 20 buku mengenai kedokteran, 8 buku mengenai hukum, 5 buku mengenai teologi atau akidah, 4 buku mengenai tata bahasa, dan 2 buku mengenai astronomi. Teks asli dari banyak karya Ibnu Rusyd yang berbahasa Arab telah hilang, dan yang masih ada hanyalah terjemahannya dalam bahasa Latin atau Ibrani.

Hot News :  Garis Edar Heliosentris dan Galaksi

    • Tafsir Aristoteles
      Ilustrasi berbahasa Arab dari kr. 1220 yang menggambarkan Aristoteles sedang mengajar. Ibnu Rusyd banyak menulis tafsir terhadap karya-karya Aristoteles.
      Ilustrasi berbahasa Arab dari kr. 1220 yang menggambarkan Aristoteles sedang mengajar. Ibnu Rusyd banyak menulis tafsir terhadap karya-karya Aristoteles.

      Ibnu Rusyd menulis tafsir atau uraian pada hampir semua karya Aristoteles yang ada pada masa hidupnya. Yang tidak ia tulis tafsirnya hanya Politika, karena ia tidak bisa mendapatkan buku tersebut, dan ia menggantinya dengan menulis tafsir buku Republik karya Plato. Ia membagi karya-karya ini menjadi tiga tipe, dan sekarang para pakar menyebutnya “tafsir panjang”, “tafsir menengah” dan “tafsir pendek” (long, middle dan short commentary dalam bahasa Inggris). Tipe yang terpendek, disebut jami’ dalam bahasa Arab, berisi ringkasan doktrin-doktrin Aristoteles, dan kebanyakan ditulis pada awal karier Ibnu Rusyd. Yang menengah (disebut talkhis) berisi parafrase atau uraian yang gunanya untuk memperjelas dan menyederhanakan bahasa dalam buku-buku Aristoteles. Tafsir menengah ini kemungkinan ditulis setelah Khalifah Abu Yaqub Yusuf mengeluh bahwa buku-buku Aristoteles rumit dan susah dibaca, dan Ibnu Rusyd ingin membantu sang khalifah dan orang-orang lain yang memiliki masalah yang sama. Tafsir panjang (disebut tafsir atau syarh dalam bahasa Arab) adalah tafsir baris per baris, yang berisi teks asli Aristoteles ditambah analisis rinci di tiap baris. Tafsir panjang ini berisi banyak pemikiran asli Ibnu Rusyd, dan kemungkinan besar bukan ditujukan untuk khalayak umum tetapi hanya untuk para pakar dan peminat Aristoteles. Untuk kebanyakan buku Aristoteles, Ibnu Rusyd hanya menulis satu atau dua dari tiga tipe tafsir ini. Namun untuk lima buku: Fisika, Metafisika, De Anima (“Mengenai Jiwa”), De Caelo (“Mengenai Langit”), dan Analytica Posteriora ia menulis ketiga tipe tafsirnya.

    • Makalah filsafat

      Ibnu Rusyd juga menulis makalah-makalah (Bahasa Arab: tunggal maqalah, jamak maqālāt) dalam berbagai topik filsafat, di antaranya tentang akal atau intelek, waktu, dan benda-benda langit (yang ketika itu termasuk topik filsafat). Ia juga menulis beberapa makalah polemik atau perdebatan, termasuk mengkritik Al-Farabi, Ibnu Sina dan Al-Ghazali dalam beberapa topik.

    • Teologi

      Ibnu Rusyd juga menulis karya bertopik akidah atau teologi. Sumber-sumber akademis seperti Fakhry dan buku Encyclopedia of Islam menyebut tiga di antara karya Ibnu Rusyd yang dianggap mengandung inti pemikiran Ibnu Rusyd dalam topik ini. Yang pertama adalah Fashl al-Maqal fi ma baina al-Hikmah wa asy-Syariah min al-Ittishal, sebuah tulisan yang mengajukan kesesuaian antara filsafat dan syariat Islam. Ia juga menulis Al-Kasyf ‘an Manahij al-‘Adillah (“Penjelasan Metode Pembukitan”) yang berisi argumen Ibnu Rusyd untuk membuktikan keberadaan Tuhan (Allah), pendapat Ibnu Rusyd mengenai sifat-sifat dan perbuatan-Nya, dan juga beberapa kritik terhadap ajaran akidah Asy’ariyah. Selain itu, karya utamanya dalam bidang ini adalah kitab Tahafut at-Tahafut (“Kerancuan dari Kerancuan”) yang merupakan balasan terhadap kitab terkenal Tahafut al-Falasifah (“Kerancuan para Filsuf”) karya Al-Ghazali. Dalam Tahafut al-Falasifah, Al-Ghazali mengkritik ilmu filsafat (terutama yang dibawakan Ibnu Sina) yang ia anggap tidak sesuai dengan akidah Islam. Al-Ghazali sendiri hidup pada tahun 1058–1111 dan telah wafat sebelum kelahiran Ibnu Rusyd, tetapi bukunya masih sangat berpengaruh pada masa Ibnu Rusyd. Tahafut karya Ibnu Rusyd mencoba membalas kritik Al-Ghazali dengan pemikiran-pemikiran yang dikembangkan Ibnu Rusyd di karya-karyanya sebelumnya. Selain membalas kritik, kitab ini juga mengkritik Ibnu Sina dan filsafatnya yang bercorak Neoplatonisme, bahkan kadang ia setuju dengan kritik Al-Ghazali terhadap Ibnu Sina.

    • Kedokteran

      Ibnu Rusyd yang pernah menjabat sebagai dokter istana khalifah, menulis beberapa buku di bidang kedokteran. Yang paling terkenal berjudul al-Kulliyah fit-Thibb (“Prinsip Umum Kedokteran”) yang ditulis kr. 1162, sebelum ia menjabat di istana. Buku ini terdiri dari 7 jilid, yang berturut-turut membahas soal anatomi, fisiologi, patologi umum, diagnosis, obat-obatan, kebersihan, dan pengobatan umum. Kelak buku ini diterjemahkan dalam Bahasa Latin (judulnya berubah menjadi Colliget) dan menjadi salah satu buku teks kedokteran di Eropa selama berabad-abad. Bersama Ibnu Zuhr, ia mengarang Al-Umur Al-Juz’iyyah, sehingga menurut Ibnu Abu Ushaybi’ah, karya bersama mereka menjadi sebuah karya lengkap tentang seni pengobatan. Ia juga menulis ringkasan karya-karya dokter Yunani Galenus (wafat kr. 210) dan uraian terhadap karya Ibnu Sina Urjuzah fit-Thibb (“Puisi Mengenai Kedokteran”).

Lembaran dari terjemahan bahasa Latin dari buku Ibnu Rusyd Al-Kulliyah fit-Thibb.
Lembaran dari terjemahan bahasa Latin dari buku Ibnu Rusyd Al-Kulliyah fit-Thibb.
    • Hukum

      Ibnu Rusyd juga adalah seorang hakim dan menulis beberapa buku di bidang fikih atau hukum Islam, termasuk ushul fiqh yang membahas kaidah-kaidah atau teori hukum. Satu-satunya karyanya yang masih ada teksnya sampai sekarang adalah buku Bidāyat al-Mujtahid wa Nihāyat al-Muqtaṣid (“Permulaan Seorang Mujtahid dan Akhir Seorang Muqtashid”). Buku ini bertopik fikih perbandingan atau ikhtilaf, yaitu perbedaan-perbedaan dalam hukum Islam. Ia menjelaskan perbedaan antara mazhab-mazhab Sunni, baik dari segi ushul (teori dan kaidah) maupun dalam praktiknya. Ibnu Rusyd adalah pengikut mazhab Maliki, tetapi buku ini juga membahas mazhab-mazhab lain, serta pendapat-pendapat yang beragam termasuk ulama konservatif dan liberal. Selain buku ini, pada daftar-daftar pustaka juga disebutkan karya-karya lain yang teksnya sudah tidak ditemukan lagi. Di antaranya adalah rangkuman dari Al-Mustashfa min ‘ilm al-Ushul, sebuah buku ushul fiqh karya Al-Ghazali serta buku-buku kecil tentang Qurban dan pajak terhadap tanah.

  • Gagasan Filsafat dan Ilmu Agama

    • Filsafat Aristoteles dalam tradisi pemikiran Islam

Dalam tulisan-tulisan filsafatnya, Ibnu Rusyd berusaha mengembalikan Aristotelianisme ke jalur utama pemikiran di dunia Islam. Menurutnya, filsafat Aristoteles telah disalahartikan oleh pemikir-pemikir Muslim sebelumnya yang terpengaruh filsafat Neoplatonisme, seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina. Ia menolak gagasan-gagasan Al-Farabi yang menggabungkan filsafat Plato dan Aristoteles, dan Ibnu Rusyd merujuk pada perbedaan antara kedua filsuf Yunani tersebut, di antaranya penolakan Aristoteles terhadap teori ide yang diajukan Plato. Ia juga mengkritik karya-karya Al-Farabi mengenai logika karena dianggap menyalahartikan sumber-sumbernya yang berasal dari Aristoteles. Ia juga panjang lebar mengkritik Ibnu Sina, yang merupakan tokoh utama Neoplatonisme di dunia Islam abad pertengahan. Ia berpendapat bahwa teori Ibnu Sina mengenai emanasi (faydh) memiliki banyak kesalahan dan tidak berasal dari Aristoteles. Ibnu Rusyd tidak setuju dengan pendapat Ibnu Sina bahwa keberadaan (wujud) hanyalah aksiden (‘ard) dari esensi (dzat). Ibnu Rusyd berpendapat sebaliknya, bahwa sesuatu ada terlebih dahulu, dan esensi hanyalah sesuatu yang diabstraksikan dari hal yang telah ada tersebut. Ia juga menolak teori modalitas Ibnu Sina serta argumen Burhan ash-Shiddiqin yang diajukan Ibnu Sina untuk membuktikan keberadaan Tuhan (Allah) sebagai sesuatu yang Wajib Ada (wajib al-wujud).

  • Hubungan antara Islam dan filsafat

Pada masa Ibnu Rusyd, filsafat banyak diserang oleh para ulama Sunni, terutama dari mazhab-mazhab teologi seperti mazhab teologi Hanbali dan Asy’ariyah. Al-Ghazali, ulama terkemuka yang bermazhab Asy’ariyah, menulis Tahafut al-Falasifah (“Kerancuan para Filsuf”), buku yang sangat berpengaruh dan berisi kritik pedas terhadap tradisi filsafat—terutama filsafat bercorak Neoplatonisme—di dunia Islam, terutama terhadap karya dan pemikiran Ibnu Sina. Al-Ghazali berpendapat bahwa beberapa teori para filsuf bertentangan dengan ajaran Islam dan merupakan bentuk kekafiran, dan juga berusaha membuktikan kesalahan teori-teori tersebut dengan argumen logika. Dalam buku Tahafut at-Tahafut itu sendiri, ada 20 persoalan yang dicermati Ibnu Rusyd yang dijadikan pangkal kritik Al-Ghazali.

Hot News :  Marvel Comics : Wakanda Pindah Ke Indonesia

Dalam buku Fashl al-Maqal, Ibnu Rusyd memaparkan bahwa filsafat—yang merupakan metode mengambil kesimpulan berdasarkan akal dan cara yang cermat—tidak mungkin bertentangan dengan ajaran Islam. Keduanya hanyalah dua cara untuk memperoleh kebenaran yang sama, dan “kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran”.  Ketika kesimpulan yang didapat dari filsafat terlihat bertentangan dengan teks kitab suci agama Islam, menurut Ibnu Rusyd teks tersebut harus ditafsirkan ulang atau diartikan secara kiasan sehingga tidak lagi bertentangan. Penafsiran ini haruslah dilakukan oleh “orang yang berakal” (ulil albab), istilah yang ia kutip dari Quran Surat 3:7. Menurut Ibnu Rusyd, pada masanya para filsuflah yang menyandang status ini karena mereka menguasai metode tertinggi dalam ilmu pengetahuan. Ia juga berpendapat bahwa Al-Qur’an menganjurkan umat Islam untuk mempelajari filsafat, karena mempelajari alam akan mendekatkan seseorang dengan Sang Pencipta. Ia mengutip beberapa ayat Al-Quran yang menyerukan umat Islam untuk mempelajari alam sekitar (misalnya QS 59:2 dan 88:17-18) dan kemudian memberikan fatwa (pendapat hukum) bahwa filsafat hukumnya boleh, bahkan bisa jadi wajib untuk mereka yang memiliki bakat dan kemampuan untuk mempelajarinya.

Ibnu Rusyd juga membedakan tiga metode membuktikan kebenaran. Yang pertama adalah metode retorika (khatab), yaitu melalui kepandaian menggunakan kata-kata, yang dapat dipahami oleh kebanyakan orang awam. Metode kedua adalah dialektika (jidāl), yaitu melalui argumen dan perdebatan, yang dilakukan oleh para ulama mutakallimun pada zaman Ibnu Rusyd. Metode ketiga adalah metode demonstratif (burhan) atau melalui pembuktian dengan kaidah-kaidah logika. Menurut Ibnu Rusyd, Al-Qur’an menggunakan metode retorika untuk menyerukan manusia pada kebenaran, karena Al-Qur’an ditujukan kepada semua orang termasuk orang awam. Sedangkan filsafat menggunakan metode demonstratif yang hanya bisa dikonsumsi oleh orang-orang yang berilmu, tetapi dapat menghasilkan pengetahuan dan pengertian yang lebih baik bagi orang yang mampu.

Ibnu Rusyd juga berusaha menjawab kritik Al-Ghazali terhadap filsafat dengan menunjukkan bahwa kritik-kritik tersebut hanya spesifik menyangkut filsafat Ibnu Sina, dan bukan filsafat Aristoteles, Menurut Ibnu Rusyd, filsafat Aristoteles adalah filsafat paling asli dan benar, dan Ibnu Sina telah menyimpang darinya.

  • Bukti keberadaan Tuhan

Ibnu Rusyd menulis mengenai bukti keberadaan Tuhan dan sifat-sifatnya di dalam bukunya Kitab al-Kasyf ‘an Manahij al-Adillah (“Buku Pengungkapan Cara-Cara Pembuktian”). Ia meneliti dan mengkritik doktrin-doktrin berbagai kelompok dalam Islam: Kelompok Asy’ariyah, Mu’tazilah, Sufi, dan “Hasyawiyah” (para literalis). Ia juga menguji dan mengkritik masing-masing bukti-bukti yang mereka ajukan untuk keberadaan Tuhan. Menurut Ibnu Rusyd, ada dua atau argumen untuk keberadaan Tuhan yang ia anggap sahih secara logika dan sesuai dengan Al-Quran, yaitu argumen inayah (“pemberian [Tuhan]”) dan ikhtira’ (“penciptaan”). Dalam argumen pemberian, ia berpendapat bahwa dunia dan alam semesta terlihat diatur untuk kehidupan dan kemakmuran manusia. Ia memberi contoh matahari, bulan, sungai-sungai, lautan, dan bumi, yang semuanya mendukung kehidupan manusia dan menunjukkan adanya Sang Pencipta yang sengaja mengaturnya demikian. Dalam argumen penciptaan, ia berargumen bahwa hal-hal yang ditemukan di dunia, seperti hewan dan tumbuhan, memiliki bentuk dan struktur yang merupakan hasil penciptaan. Hal ini menunjukkan adanya Sang Pencipta yang merancangnya. Kedua argumen yang diajukan Ibnu Rusyd ini merupakan argumen teleologis, berbeda dengan argumen Aristoteles maupun kebanyakan ulama Muslim pada masa itu yang cenderung menggunakan argumen kosmologis untuk membuktikan keberadaan Tuhan.

Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini ?
+1

+1

+1

+1

+1

+1

Liked it? Take a second to support 101 Kesalahan Flat Earth Indonesia | Debunking Flat Earth on Patreon!

Ibnu Rusyd : Seorang Filsuf dan Pemikir, Pendukung Filsafat Aristoteles 1

Content Protection by DMCA.com