Ibnu Rusyd : Seorang Filsuf dan Pemikir, Pendukung Filsafat Aristoteles
Gagasan Pentinghubungan Antara Islam Dan Filsafat, Keselarasan Akal Dan Wahyu, Kesatuan Akal
Gagasan Penting Hubungan Antara Dan , Keselarasan Akal Dan Wahyu, Kesatuan Akal

Ibnu Rusyd (: ابن رشد‎; Nama lengkap : أبو الوليد محمد ابن احمد ابن رشد, translit. Abu Al-Walid ibn Ahmad ibn Rusyd‎; 1126 – 11 Desember 1198), sering dilatinkan sebagai Averroes, adalah seorang filsuf dan pemikir dari Al-Andalus yang menulis dalam disiplin , termasuk , atau , , , , atau hukum , dan . Karya-karya filsafatnya termasuk banyak tafsir, parafrase, dan ringkasan karya-karya , yang membuatnya dijuluki oleh barat sebagai “Sang Penafsir” (Bahasa Inggris: The Commentator). Ibnu Rusyd juga semasa hidupnya mengabdi sebagai hakim dan istana untuk Kekhalifahan Muwahhidun.

Ibnu Rusyd lahir di Kordoba dari keluarga yang melahirkan hakim-hakim terkenal; kakeknya adalah qadhi al-qudhat (hakim kepala) dan ahli hukum terkenal di itu. Pada 1169 ia bertemu dengan Abu Yaqub Yusuf, yang terkesan dengan pengetahuan Ibnu Rusyd. Sang kemudian mendukung Ibnu Rusyd dan banyak karya Ibnu Rusyd adalah proyek yang ditugaskannya. Ibnu Rusyd juga beberapa kali menjabat sebagai hakim di Sevilla dan Kordoba. Pada 1182, ia ditunjuk sebagai istana dan hakim kepala di Kordoba. Setelah wafatnya Abu Yusuf pada 1184, ia masih berhubungan baik dengan istana, hingga 1195 saat dia dikenai berbagai tuduhan dengan motif . Pengadilan lalu memutuskan bahwa ajarannya sesat dan Ibnu Rusyd diasingkan ke Lucena. Setelah beberapa di pengasingan, istana memanggilnya bertugas kembali, tetapi tidak berlangsung lama karena Ibnu Rusyd wafat.

Ibnu Rusyd adalah pendukung ajaran (). Ia berusaha mengembalikan ke ajaran yang asli. Ia mengkritik corak Neoplatonisme yang terdapat pada pemikir-pemikir sebelumnya seperti dan , yang ia anggap menyimpang dari . Ia membela kegiatan berfilsafat dari kritik yang dilancarkan para ulama Asy’ariyah seperti . Ibnu Rusyd berpendapat bahwa dalam berfilsafat hukumnya boleh, bahkan bisa jadi wajib untuk kalangan tertentu. Ia juga berpendapat bahwa teks dan Hadis dapat diinterpretasikan secara tersirat atau kiasan jika teks tersebut terlihat bertentangan dengan kesimpulan yang ditemukan melalui akal dan . Dalam , ia menulis Bidayatul Mujtahid yang membahas perbedaan mazhab dalam hukum . Dalam , ia menghasilkan gagagan baru mengenai fungsi retina dalam penglihatan, penyebab strok, dan -gejala Parkinson, serta menulis yang kelak diterjemahkan menjadi sebuah teks standar di .

Pengaruh Ibnu Rusyd ke Barat jauh lebih besar dibanding . Ibnu Rusyd menulis banyak tafsir terhadap karya-karya , yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani dan bahasa Latin dan beredar di . Terjemahan karya-karya Ibnu Rusyd memicu para pemikir Barat untuk kembali mengkaji karya-karya dan pemikir lainnya, setelah lama diabaikan sejak jatuhnya . Pendapat-pendapat Ibnu Rusyd juga menimbulkan kontroversi di Latin, dan menginspirasi sebuah gerakan yang disebut Averroisme. Salah satu doktrinnya yang kontroversial di Barat adalah yang disebut “kesatuan akal” (unitas intellectus dalam bahasa Latin), yang menyatakan bahwa semua bersama-sama memiliki satu akal atau “intelek”. Karya-karyanya dinyatakan sesat oleh Gereja Katolik Roma pada 1270 dan 1277, dan pemikir Thomas Aquinas menulis kritik-kritik tajam terhadap Ibnu Rusyd. Sekalipun demikian, Averroisme tetap memiliki pengikut di Barat hingga ke-16.

ibn Ahmad ibn Rusyd lahir pada 1126 M/520 H di Kordoba, yang ketika itu merupakan Murabithun. Keluarga Ibnu Rusyd dikenal sebagai tokoh masyarakat di Kordoba, terutama atas peran mereka dalam hukum dan . Kakek Ibnu Rusyd, yang juga bernama Abu al-Walid (wafat 1126) menjabat qadhi al-qudhat (hakim kepala) di tersebut, dan juga merupakan imam Masjid Agung Kordoba. Ayahnya, Abu al-Qasim Ahmad, juga menjabat sebagai kadi atau hakim pada masa kekuasaan Murabithun, hingga Kordoba jatuh ke tangan Kekhalifahan Muwahidun.

Menurut biografi-biografi klasik, Ibnu Rusyd menerima yang istimewa, dimulai dari pelajaran Hadis, (hukum ), maupun ( ). fikihnya adalah Al-Hafiz Abu ibn Rizq yang bermazhab Maliki dan hadisnya adalah Ibnu Basykuwal, yang merupakan murid dari kakeknya. Ia juga dari ayahnya, yang mengajarkannya Muwatta karya Imam Malik, teks Maliki yang paling terkenal, yang kemudian dihafalkan oleh Ibnu Rusyd. kedokterannya adalah Abu Jafar Jarim at-Tajail, yang kemungkinan juga mengajarkannya . Ia juga mempelajari karya-karya dari Ibnu Bajjah (juga dikenal dengan nama Avempace) yang mungkin juga merupakan salah satu gurunya. Ia mengikuti pertemuan rutin para filsuf, dan sastrawan di Sevilla, yang juga dihadiri oleh filsuf Ibnu Thufail dan Ibnu Zuhri serta Abu Yusuf Yaqub yang kelak akan menjadi . Ibnu Rusyd muda juga mempelajari atau kalam dari Mazhab Asy’ariyah, walaupun kelak ia akan mengkritik mazhab ini. Menurut penulis ke-13 Ibnu al-Abbar, Ibnu Rusyd lebih tertarik dengan hukum dan ushul fiqh (kaidah-kaidah hukum) dibanding hadis dan sunnah. Salah satu spesialisasi yang ditekuninya adalah masalah ikhtilaf atau perbedaan pendapat dalam . Ibnu Al-Abbar juga menyebutkan ketertarikan Ibnu Rusyd muda pada “-ilmu orang terdahulu” (al-‘ulum al-awa’il), yang kemungkinan maksudnya adalah dan yang dikembangkan para .

    • Karier
Ibnu Rusyd Memegang Berbagai Jabatan Pemerintah Di Kekhalifahan Muwahhidun, Yang Menguasai Sebagian Wilayah Spanyol Dan Maghrib
Ibnu Rusyd Memegang Berbagai Di Kekhalifahan Muwahhidun, Yang Menguasai Sebagian Dan

Pada 1147, gerakan Muwahhidun yang dipimpin oleh Ibnu Tumart (yang menyebut dirinya sebagai al-Mahdi) menggulingkan kekuasaan Murabithun di ibu Marrakesh, dan tak lama kemudian Al-Andalus juga jatuh ke tangan Muwahhidun. Setelah berkuasa, gerakan Muwahhidun mendeklarasikan sebuah kekhalifahan. Selain dikenal dengan misinya untuk memurnikan ajaran tauhid atau keesaan Tuhan, Ibnu Tumart dan para pemimpin Muwahhidun juga ingin agar masyarakat umum lebih mengenal syariah atau . Bersamaan dengan ini, pemerintahan Muwahhidun banyak menggalakkan berbagai seperti , dan .

Pada 1153, Ibnu Rusyd melakukan pengamatan di Marrakesh dan membantu pembangunan perguruan-perguruan tinggi yang sedang dilakukan . Ia berusaha mencari hukum-hukum yang mengendalikan pergerakan benda-benda , tetapi penelitian ini tidak berhasil. Pada saat itu ia kemungkinan pertama kali bertemu dengan Ibnu Thufail, filsuf terkenal dan penulis novel Hayy ibn Yaqzhan, yang saat itu menjabat sebagai istana. Ibnu Rusyd dan Ibnu Thufail kelak berteman, walaupun mereka kadang berselisih dalam masalah .

Pada 1169, Ibnu Thufail memperkenalkan Ibnu Rusyd kepada Abu Yaqub Yusuf. Menurut laporan sejarawan Abdulwahid al-Marakisyi, pada pertemuan ini sang bertanya kepada Ibnu Rusyd apakah selalu ada sejak dahulu (qadim) atau memiliki awal mula (hadits). Ketika itu, topik ini adalah topik kontroversial dan Ibnu Rusyd awalnya tidak menjawab karena takut memancing bahaya dan kontroversi. Sang lalu mengemukakan pendapat , , dan para filsuf tentang topik ini dan mendiskusikannya dengan Ibnu Thufail. Melihat sang juga suka berfilsafat, Ibnu Rusyd menjadi tenang dan mengemukakan pendapatnya. Sang terkesan dengan pendapat Ibnu Rusyd, dan begitupun Ibnu Rusyd juga terkesan dengan pengetahuan sang dan kelak mengatakan bahwa Abu Yaqub Yusuf memiliki “pengetahuan berlimpah yang tak saya duga”.

Sejak perkenalan ini, Ibnu Rusyd memiliki hubungan baik dengan Abu Yaqub Yusuf hingga tersebut wafat. Ketika sang mengeluh ke Ibnu Thufail bahwa karya-karya terlalu susah dimenegerti, Ibnu Thufail menyarankan agar Ibnu Rusyd ditugaskan untuk menerangkannya. Inilah awal dari proyek besar Ibnu Rusyd menulis tafsir karya-karya . Pada 1169, Ibnu Rusyd menulis tafsir pertamanya.

Pada yang sama, Ibnu Rusyd diangkat sebagai kadi di Sevilla. Dua kemudian, ia menjadi kadi di Kordoba, kelahirannya. Tugasnya sebagai kadi adalah memutuskan kasus pengadilan dan memberikan fatwa atau pendapat hukum sesuai . Pada saat itu ia semakin aktif menulis, walaupun tugasnya semakin banyak dan mengharuskannya melakukan banyak perjalanan. Kesempatan mengunjungi berbagai tempat ia gunakan untuk melakukan penelitian . Antara 1169 dan 1179, banyak karyanya yang tercantum keterangan ditulis di Sevilla. Pada tahun 1179 ia kembali menjabat sebagai kadi di Sevilla. Pada tahun 1182 ia diangkat menjadi istana untuk menggantikan Ibnu Thufail yang telah pensiun. Pada tahun yang sama ia juga diangkat sebagai hakim kepala di Kordoba, bergengsi yang sebelumnya pernah dipegang oleh kakeknya.

Walaupun Pada Sebagian Besar Hidupnya Ibnu Rusyd Didukung Pihak Kekhalifahan, Pada 1195 Ia Sempat Diasingkan Oleh Khalifah Yaqub Al-Mansur.
Walaupun Pada Sebagian Besar Hidupnya Ibnu Rusyd Didukung Pihak Kekhalifahan, Pada 1195 Ia Sempat Diasingkan Oleh Yaqub Al-Mansur.

Pada tahun 1184, Abu Yaqub wafat dan digantikan oleh Abu Yusuf Yaqub al-Mansur. Awalnya Ibnu Rusyd tetap memiliki hubungan baik dengan istana, dan tetap menjabat sebagai istana tetapi pada 1195 situasinya berubah. Ia mendapat berbagai tuduhan, termasuk tuduhan mengajarkan aliran sesat, dan ia harus menghadapi pengadilan di Kordoba. Pengadilan memutuskan Ibnu Rusyd bersalah, menyatakan ajarannya sesat dan memerintahkan agar tulisan-tulisannya dibakar. Ibnu Rusyd diasingkan ke kecil Lucena, sebuah permukiman yang berada di sekitar Kordoba. Biografi-biografi klasik menyebutkan berbagai sebab memburuknya situasi Ibnu Rusyd ini, salah satunya karena Ibnu Rusyd dianggap menghina dalam tulisannya. Namun para sejarawan modern menganggap bahwa perlakuan keras terhadap Ibnu Rusyd ini bermotif . Encyclopaedia of Islam menyebutkan bahwa berusaha menjauhkan dirinya dari Ibnu Rusyd untuk mendapat dan dukungan dari para ulama tradisional yang banyak menentang ajaran Ibnu Rusyd. Pada saat itu, khalifah sedang butuh dukungan para ulama untuk melancarkan perang melawan -kerajaan . Sejarawan Majid Fakhry menulis bahwa banyak fukaha atau ahli tradisional pada saat itu menentang Ibnu Rusyd dan menekan sang khalifah.

Setelah beberapa tahun, Ibnu Rusyd kembali didukung khalifah dan ia bertugas lagi di istana kekhalifahan. Namun tak lama kemudian ia meninggal pada tanggal 11 Desember 1198 (atau 5 Safar 595 H). Awalnya ia dikuburkan di Maroko, tetapi kemudian jenazahnya dipindahkan ke Kordoba. Pemakamannya di Kordoba dihadiri oleh Ibnu Arabi (1165–1240) yang kelak akan menjadi tokoh sufi terkemuka.

  • Karya-karya

Ibnu Rusyd adalah penulis yang amat produktif dan tulisan-tulisannya mencakup banyak topik. Menurut Fakhry, karyanya “mencakup lebih banyak ” dibanding para pendahulunya di Timur. -bidang yang ia bahas di antaranya , , hukum, serta . Kebanyakan tulisannya adalah tafsir atau uraian terhadap karya-karya , yang juga sering mengandung pemikiran baru dari Ibnu Rusyd sendiri. Menurut penulis Prancis Ernest Renan, selain tafsir-tafsir dan Ibnu Rusyd menulis sedikitnya 67 yang merupakan karya baru (bukan tafsir), termasuk 28 mengenai , 20 mengenai , 8 mengenai hukum, 5 mengenai atau , 4 mengenai tata bahasa, dan 2 mengenai . Teks asli dari banyak karya Ibnu Rusyd yang berbahasa telah hilang, dan yang masih ada hanyalah terjemahannya dalam bahasa Latin atau Ibrani.

    • Tafsir
      Ilustrasi Berbahasa Arab Dari Kr. 1220 Yang Menggambarkan Aristoteles Sedang Mengajar. Ibnu Rusyd Banyak Menulis Tafsir Terhadap Karya-Karya Aristoteles.
      Ilustrasi Berbahasa Dari Kr. 1220 Yang Menggambarkan Aristoteles Sedang Mengajar. Ibnu Rusyd Banyak Menulis Tafsir Terhadap Karya-Karya Aristoteles.

      Ibnu Rusyd menulis tafsir atau uraian pada hampir semua karya Aristoteles yang ada pada masa hidupnya. Yang tidak ia tulis tafsirnya hanya Politika, karena ia tidak bisa mendapatkan tersebut, dan ia menggantinya dengan menulis tafsir karya . Ia membagi karya-karya ini menjadi tiga tipe, dan sekarang para pakar menyebutnya “tafsir panjang”, “tafsir menengah” dan “tafsir pendek” (long, middle dan short commentary dalam bahasa Inggris). Tipe yang terpendek, disebut jami’ dalam , berisi ringkasan -doktrin Aristoteles, dan kebanyakan ditulis pada awal karier Ibnu Rusyd. Yang menengah (disebut talkhis) berisi parafrase atau uraian yang gunanya untuk memperjelas dan menyederhanakan bahasa dalam -buku Aristoteles. Tafsir menengah ini kemungkinan ditulis setelah Khalifah Abu Yaqub Yusuf mengeluh bahwa -buku Aristoteles rumit dan susah dibaca, dan Ibnu Rusyd ingin membantu sang khalifah dan orang-orang lain yang memiliki masalah yang sama. Tafsir panjang (disebut tafsir atau syarh dalam ) adalah tafsir baris per baris, yang berisi teks asli Aristoteles ditambah analisis rinci di tiap baris. Tafsir panjang ini berisi banyak pemikiran asli Ibnu Rusyd, dan kemungkinan besar bukan ditujukan untuk khalayak umum tetapi hanya untuk para pakar dan peminat Aristoteles. Untuk kebanyakan Aristoteles, Ibnu Rusyd hanya menulis satu atau dua dari tiga tipe tafsir ini. Namun untuk lima : , , (“Mengenai Jiwa”), De Caelo (“Mengenai ”), dan Analytica Posteriora ia menulis ketiga tipe tafsirnya.

    • Makalah filsafat

      Ibnu Rusyd juga menulis makalah-makalah (: tunggal maqalah, jamak maqālāt) dalam berbagai topik filsafat, di antaranya tentang akal atau intelek, , dan benda-benda (yang ketika itu termasuk topik filsafat). Ia juga menulis beberapa makalah polemik atau perdebatan, termasuk mengkritik , dan dalam beberapa topik.

    • Ibnu Rusyd juga menulis karya bertopik atau . Sumber-sumber akademis seperti Fakhry dan Encyclopedia of Islam menyebut tiga di antara karya Ibnu Rusyd yang dianggap mengandung inti pemikiran Ibnu Rusyd dalam topik ini. Yang pertama adalah Fashl al-Maqal fi ma baina al-Hikmah wa asy-Syariah min al-Ittishal, sebuah tulisan yang mengajukan kesesuaian antara filsafat dan Islam. Ia juga menulis Al-Kasyf ‘an Manahij al-‘Adillah (“Penjelasan Metode Pembukitan”) yang berisi argumen Ibnu Rusyd untuk membuktikan keberadaan Tuhan (Allah), pendapat Ibnu Rusyd mengenai sifat-sifat dan perbuatan-Nya, dan juga beberapa kritik terhadap ajaran Asy’ariyah. Selain itu, karya utamanya dalam ini adalah Tahafut at-Tahafut (“Kerancuan dari Kerancuan”) yang merupakan balasan terhadap terkenal (“Kerancuan para Filsuf”) karya . Dalam , mengkritik filsafat (terutama yang dibawakan ) yang ia anggap tidak sesuai dengan Islam. sendiri hidup pada tahun 1058–1111 dan telah wafat sebelum kelahiran Ibnu Rusyd, tetapi bukunya masih sangat berpengaruh pada masa Ibnu Rusyd. Tahafut karya Ibnu Rusyd mencoba membalas kritik dengan pemikiran-pemikiran yang dikembangkan Ibnu Rusyd di karya-karyanya sebelumnya. Selain membalas kritik, ini juga mengkritik dan filsafatnya yang bercorak Neoplatonisme, bahkan kadang ia setuju dengan kritik terhadap .

    • Ibnu Rusyd yang pernah menjabat sebagai istana khalifah, menulis beberapa di . Yang paling terkenal berjudul al-Kulliyah fit-Thibb (“Prinsip Umum ”) yang ditulis kr. 1162, sebelum ia menjabat di istana. ini terdiri dari 7 jilid, yang berturut-turut membahas soal anatomi, fisiologi, patologi umum, diagnosis, obat-obatan, kebersihan, dan pengobatan umum. Kelak ini diterjemahkan dalam Bahasa Latin (judulnya berubah menjadi Colliget) dan menjadi salah satu teks di selama berabad-. Bersama Ibnu Zuhr, ia mengarang Al-Umur Al-Juz’iyyah, sehingga menurut Ibnu Abu Ushaybi’ah, karya bersama mereka menjadi sebuah karya lengkap tentang seni pengobatan. Ia juga menulis ringkasan karya-karya Galenus (wafat kr. 210) dan uraian terhadap karya Urjuzah fit-Thibb (“Puisi Mengenai ”).

Lembaran Dari Terjemahan Bahasa Latin Dari Buku Ibnu Rusyd Al-Kulliyah Fit-Thibb.
Lembaran Dari Terjemahan Bahasa Latin Dari Ibnu Rusyd Al-Kulliyah Fit-Thibb.
    • Hukum

      Ibnu Rusyd juga adalah seorang hakim dan menulis beberapa di atau , termasuk ushul fiqh yang membahas kaidah-kaidah atau hukum. Satu-satunya karyanya yang masih ada teksnya sampai sekarang adalah Bidāyat al-Mujtahid wa Nihāyat al-Muqtaṣid (“Permulaan Seorang Mujtahid dan Akhir Seorang Muqtashid”). ini bertopik perbandingan atau ikhtilaf, yaitu perbedaan-perbedaan dalam . Ia menjelaskan perbedaan antara mazhab-mazhab Sunni, baik dari segi ushul ( dan kaidah) maupun dalam praktiknya. Ibnu Rusyd adalah pengikut mazhab Maliki, tetapi ini juga membahas mazhab-mazhab lain, serta pendapat-pendapat yang beragam termasuk ulama konservatif dan liberal. Selain ini, pada daftar-daftar pustaka juga disebutkan karya-karya lain yang teksnya sudah tidak ditemukan lagi. Di antaranya adalah rangkuman dari Al-Mustashfa min ‘ilm al-Ushul, sebuah ushul fiqh karya serta -buku kecil tentang Qurban dan pajak terhadap tanah.

  • Gagasan Filsafat dan

    • Filsafat Aristoteles dalam tradisi pemikiran Islam

Dalam tulisan-tulisan filsafatnya, Ibnu Rusyd berusaha mengembalikan ke jalur utama pemikiran di Islam. Menurutnya, filsafat Aristoteles telah disalahartikan oleh pemikir-pemikir sebelumnya yang terpengaruh filsafat Neoplatonisme, seperti dan . Ia menolak gagasan-gagasan yang menggabungkan filsafat dan Aristoteles, dan Ibnu Rusyd merujuk pada perbedaan antara kedua filsuf tersebut, di antaranya penolakan Aristoteles terhadap ide yang diajukan . Ia juga mengkritik karya-karya mengenai logika karena dianggap menyalahartikan sumber-sumbernya yang berasal dari Aristoteles. Ia juga panjang lebar mengkritik , yang merupakan tokoh utama Neoplatonisme di Islam pertengahan. Ia berpendapat bahwa mengenai emanasi (faydh) memiliki banyak kesalahan dan tidak berasal dari Aristoteles. Ibnu Rusyd tidak setuju dengan pendapat bahwa keberadaan (wujud) hanyalah aksiden (‘ard) dari esensi (dzat). Ibnu Rusyd berpendapat sebaliknya, bahwa sesuatu ada terlebih dahulu, dan esensi hanyalah sesuatu yang diabstraksikan dari hal yang telah ada tersebut. Ia juga menolak modalitas serta argumen Burhan ash-Shiddiqin yang diajukan untuk membuktikan keberadaan Tuhan (Allah) sebagai sesuatu yang Wajib Ada (wajib al-wujud).

  • Hubungan antara Islam dan filsafat

Pada masa Ibnu Rusyd, filsafat banyak diserang oleh para ulama Sunni, terutama dari mazhab-mazhab seperti mazhab Hanbali dan Asy’ariyah. , ulama terkemuka yang bermazhab Asy’ariyah, menulis (“Kerancuan para Filsuf”), yang sangat berpengaruh dan berisi kritik pedas terhadap tradisi filsafat—terutama filsafat bercorak Neoplatonisme—di Islam, terutama terhadap karya dan pemikiran Ibnu Sina. berpendapat bahwa beberapa para filsuf bertentangan dengan ajaran Islam dan merupakan bentuk kekafiran, dan juga berusaha membuktikan kesalahan -teori tersebut dengan argumen logika. Dalam Tahafut at-Tahafut itu sendiri, ada 20 persoalan yang dicermati Ibnu Rusyd yang dijadikan pangkal kritik .

Dalam buku Fashl al-Maqal, Ibnu Rusyd memaparkan bahwa filsafat—yang merupakan metode mengambil kesimpulan berdasarkan akal dan cara yang cermat—tidak mungkin bertentangan dengan ajaran Islam. Keduanya hanyalah dua cara untuk memperoleh kebenaran yang sama, dan “kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran”.  Ketika kesimpulan yang didapat dari filsafat terlihat bertentangan dengan teks suci Islam, menurut Ibnu Rusyd teks tersebut harus ditafsirkan ulang atau diartikan secara kiasan sehingga tidak lagi bertentangan. Penafsiran ini haruslah dilakukan oleh “orang yang berakal” (ulil albab), istilah yang ia kutip dari Surat 3:7. Menurut Ibnu Rusyd, pada masanya para filsuflah yang menyandang status ini karena mereka menguasai metode tertinggi dalam pengetahuan. Ia juga berpendapat bahwa Al-Qur’an menganjurkan umat Islam untuk mempelajari filsafat, karena mempelajari akan mendekatkan seseorang dengan Sang Pencipta. Ia mengutip beberapa Al- yang menyerukan umat Islam untuk mempelajari sekitar (misalnya QS 59:2 dan 88:17-18) dan kemudian memberikan fatwa (pendapat hukum) bahwa filsafat hukumnya boleh, bahkan bisa jadi wajib untuk mereka yang memiliki bakat dan kemampuan untuk mempelajarinya.

Ibnu Rusyd juga membedakan tiga metode membuktikan kebenaran. Yang pertama adalah metode retorika (khatab), yaitu melalui kepandaian menggunakan kata-kata, yang dapat dipahami oleh kebanyakan orang awam. Metode kedua adalah dialektika (jidāl), yaitu melalui argumen dan perdebatan, yang dilakukan oleh para ulama mutakallimun pada zaman Ibnu Rusyd. Metode ketiga adalah metode demonstratif (burhan) atau melalui pembuktian dengan kaidah-kaidah logika. Menurut Ibnu Rusyd, Al-Qur’an menggunakan metode retorika untuk menyerukan pada kebenaran, karena Al-Qur’an ditujukan kepada semua orang termasuk orang awam. Sedangkan filsafat menggunakan metode demonstratif yang hanya bisa dikonsumsi oleh orang-orang yang berilmu, tetapi dapat menghasilkan pengetahuan dan pengertian yang lebih baik bagi orang yang mampu.

Ibnu Rusyd juga berusaha menjawab kritik Al-Ghazali terhadap filsafat dengan menunjukkan bahwa kritik-kritik tersebut hanya spesifik menyangkut filsafat Ibnu Sina, dan bukan filsafat Aristoteles, Menurut Ibnu Rusyd, filsafat Aristoteles adalah filsafat paling asli dan benar, dan Ibnu Sina telah menyimpang darinya.

  • Bukti keberadaan Tuhan

Ibnu Rusyd menulis mengenai bukti keberadaan Tuhan dan sifat-sifatnya di dalam bukunya al-Kasyf ‘an Manahij al-Adillah (“Buku Pengungkapan Cara-Cara Pembuktian”). Ia meneliti dan mengkritik -doktrin berbagai kelompok dalam Islam: Kelompok Asy’ariyah, Mu’tazilah, Sufi, dan “Hasyawiyah” (para literalis). Ia juga menguji dan mengkritik masing-masing bukti-bukti yang mereka ajukan untuk keberadaan Tuhan. Menurut Ibnu Rusyd, ada dua atau argumen untuk keberadaan Tuhan yang ia anggap sahih secara logika dan sesuai dengan Al-, yaitu argumen inayah (“pemberian [Tuhan]”) dan ikhtira’ (“”). Dalam argumen pemberian, ia berpendapat bahwa dan terlihat diatur untuk kehidupan dan kemakmuran . Ia memberi contoh , , sungai-sungai, lautan, dan , yang semuanya mendukung kehidupan dan menunjukkan adanya Sang Pencipta yang sengaja mengaturnya demikian. Dalam argumen , ia berargumen bahwa hal-hal yang ditemukan di dunia, seperti hewan dan tumbuhan, memiliki bentuk dan struktur yang merupakan hasil . Hal ini menunjukkan adanya Sang Pencipta yang merancangnya. Kedua argumen yang diajukan Ibnu Rusyd ini merupakan argumen teleologis, berbeda dengan argumen Aristoteles maupun kebanyakan ulama pada masa itu yang cenderung menggunakan argumen kosmologis untuk membuktikan keberadaan Tuhan.

Content Protection By Dmca.com

Post Disclaimer

Informasi yang terkandung dalam pos ini hanya untuk keperluan informasi umum. Informasi ini disediakan oleh Ibnu Rusyd : Seorang Filsuf dan Pemikir, Pendukung Filsafat Aristoteles dan sementara kami berusaha untuk menjaga agar informasi tetap terbaru dan benar, kami tidak membuat pernyataan atau jaminan dalam bentuk apa pun, tersurat maupun tersirat, tentang kelengkapan, keakuratan, keandalan, kesesuaian, atau ketersediaan dengan menghormati situs web atau informasi, produk, layanan, atau gambar terkait yang terdapat pada pos untuk tujuan apa pun. 101 Portal Education News

Trending sekarang :
Garis Edar Heliosentris dan Galaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini