September 22, 2017

Klaim: New World Order – 101 Kesalahan Flat Earth Indonesia

New World Order terjemahan yang buruk dari Novus Ordo Saeculorum. ‘Saeculorum’ adalah bentuk genitif jamak dari ‘saeculum’ yang berarti ‘zaman’. Jadi terjemahan yang lebih tepatnya adalah ‘New Order of the Ages’. Ini merujuk kepada Amerika Serikat ketika baru merdeka dari Inggris yang bercita-cita membangun negara murni berdasarkan idealisme zaman pencerahan, alih-alih berbasis tradisi seperti Eropa dan Timur Tengah yang merupakan mayoritas di ZAMAN itu. Jadi, TATANAN (order) negara AS merupakan hal yang BARU (new) di ZAMAN (age) itu. Penggemar teori konspirasi kerap kali salah di sini karena motto ini ditampilkan berbarengan dengan piramida berpuncak Eye of Providence. Ngomong-ngomong Eye of Providence, simbol itu adalah simbol yang dipakai umat Kristen (biasanya Katolik atau Ortodoks dan sebagian Protestan) untuk mewakili bantuan ilahi. Tuhan Maha Memelihara, dan mata adalah simbol pengawasan Tuhan atas segala sesuatu. Bukan “dajjal”. Sudahnya salah kaprah, salah tafsir lagi! 

Lucifer bukanlah nama ‘iblis’. Lucifer artinya pembawa cahaya (lux = cahaya; ferre = membawa, menggotong). Di dunia kuno, ini adalah nama lain planet Venus yang bersinar terang di subuh hari. Di Kitab Isaiah, ini digunakan untuk mengolok Raja Nebukhadnezzar dari Babylonia karena menaklukkan kerajaan Israel; yakni dia disumpahi lengser dari kekuasaan sebagaimana terbenamnya Venus ketika matahari terbit. Beberapa abad kemudian, teolog kristen menggunakan istilah ini untuk membangun teologi bahwa Iblis diusir (jatuh) dari surga. Loh kok bisa? Karena praktek tafsir zaman dulu tidak menerapkan metode kritis historis. Ayat di kitab itu bisa dimaknai sekreatif mungkin tanpa merujuk kepada konteks aslinya. Maklumlah, ilmunya belum matang. Wong, di bidang terjemahan – profesi saya – saja prinsip mendasar seperti ‘non verbum e verbo, sed sensum e sensu’ (Jangan per kata, melainkan makna seutuhnya) baru ditemukan oleh Santo Hieronymus di abad ke-4.

Definisi saja sudah salah, apalagi tentang penjabaran “kepercayaannya”. Soal Nimrod, di Alkitab tidak ada ditulis Nimrod membangun menara, apalagi bahwa menara itu untuk menantang Tuhan. Kota Babilon (Babilli) pertama kali dicatat sekitar 2 milenium SM dari suatu bahasa non-Semit. Seribu  tahun setelah itu, namanya berubah menjadi Babilum (bhs. Akkad = gerbang milik tuhan) merefleksikan fungsi kota itu sebagai tempat kuilnya dewa Marduk, sesembahan bangsa asli di sana. Nah perubahan nama ini menginspirasi sebagian orang untuk mengaitkan ziggurat (sejenis bangunan besar) yang ada di sana dengan cerita Babel di Alkitab, lebih tepatnya di Kitab Kejadian. Kemudian dikaitkan lagi dengan raja Nimrod karena salah satu daerah kekuasaannya adalah Babel. Karakterisasi Nimrod sebagai sosok jahat itu karena dia tidak menyembah dewa nasionalnya Israel dan di tulisannya Pseudo-Philo (pseudo = palsu; karena si penulis anonim meminjam ketenarannya Philo dari Alexandria), dinyatakan bahwa Nimrod dan Abraham bertemu, dan pertemuan ini dijadikan kontras antara monoteisme dan politeisme.

Ini semua adalah tradisi yang berkembang di era yang berbeda-beda dan  bukan bagian dari cerita yang bersangkutan di Alkitab sebagaimana ditulis aslinya. Tidak percaya? Coba baca Kitab Kejadian Pasal 11. Cerita ini adalah etiologi, yakni upaya Israel kuno untuk memahami perbedaan budaya dan bahasa.