kreasionisme

62 / 100

Skor SEO

Kreasionisme sebagaimana dalam agama-agama Abrahamik, adalah kepercayaan bahwa manusia, kehidupan, bumi, dan seluruh jagat raya mempunyai asal-usul secara ajaib yang dihasilkan oleh campur tangan adikodrati suatu keberadaan yang maha tinggi yang umumnya disebut Tuhan. Campur tangan ini dapat dilihat entah sebagai suatu tindakan penciptaan dari ketiadaan (ex nihilo), atau dengan munculnya ketertiban dari khaos (demiurgos) yang ada sebelumnya. Dalam pengertian modern, istilah kreasionisme secara khusus dihubungkan dengan suatu jenis fundamentalisme Kristen konservatif yang bertabrakan dengan berbagai aspek dari ilmu pengetahuan. Di kalangan ilmuwan, kreasionisme adalah termasuk pseudosains, yang tidak sesuai dengan metode ilmu pengetahuan. Menurut penantang kreasionisme, pendukung kreasionisme tidak dapat mengusulkan suatu teori penciptaan yang bisa difalsifikaikan atau bisa diteliti dengan memakai instrumen ilmu pengetahuan.

Salah satu artifak dari dunia keyakinan pada Tuhan adalah kreasionisme ilmiah, sebuah usaha untuk menyeimbangkan penafsiran fundamentalis dari injil judeo-kristen dengan penemuan sains modern. Berpuluh tahun setelah “pengadilan monyet” yang terkenal yang memperdebatkan pro dan kontra terhadap penemuan evolusioner, kita masih mengulang argument ini di sekolah. Kreasionisme memiliki premis dasar yang sangat sederhana, bahwa semua mahluk hidup diciptakan tuhan serta merta, tanpa melalui proses evolusi. Kreasionisme mengajukan gagasan yang tidak masuk akal mengenai penciptaan mahluk hidup namun memenangkan hati masyarakat umum karena kesesuaiannya dengan agama. Dalam kata-kata paleontolog-biolog Harvard, Stephen Jay Gould, “Sains penciptaan adalah kebodohan yang bijaksana”. Kebodohan yang bijaksana adalah sebuah istilah kontradiksi. Karena mustahil bagi orang bodoh untuk menjadi bijaksana, begitu pula mustahil bagi kreasionisme untuk menjadi sains.

Gagasan kreasionisme (penciptaan) adalah sebuah gagasan yang menolak sains dalam menjelaskan asal usul mahluk hidup. Frase “Sains penciptaan” adalah kekonyolan, dan tidak mesti diajarkan dimanapun di sekolah. Bahkan sebagian umat Kristen, melihat kalau itu adalah penyimpangan dari injil dan mengalihkan non-kristen/islam yang menyadari kalau kreasionisme adalah kekonyolan. Walau demikian, kita tidak dapat memakai sains untuk membuktikan ketiadaan tuhan; itu mustahil. Dua ilmuan besar amerika diantara banyak ilmuan lainnya yang percaya adanya tuhan namun menolak kreasionisme adalah Francis Collins, ketua Human Genome Project, dan Kenneth Miller, penulis buku paket biologi Sekolah Menengah di AS. Banyak orang terkenal yang benar-benar ingin mengajarkan kreasionisme di sekolah, sebagian dengan istilah “desain cerdas”, namun yang mereka ganti hanyalah nama.

Baca Juga :  Sejarah Vaksinasi dari Kesultanan Ottoman Islam

Pendidikan sekuler yang berkualitas adalah mendasar unuk sebuah masyarakat agar berfungsi dengan baik. Ia menjadi antidote efektif untuk ketidakpedulian, ketidak rasionalan, prasangka, dan banyak penyakit sosial lainnya. Survey oleh para peneliti Penn State University menunjukkan kalau satu dari delapan guru biologi di AS mengajarkan kreasionisme sebagai alternative dari teori evolusi. Dari 939 guru biologi yang disurvey oleh Penn State, 25% menunjukkan kalau mereka menghabiskan waktu di kelas membahas kreasionisme. Sekitar separuh dari mereka setuju kalau kreasionisme adalah “alternative ilmiah yang sah dari penjelasan Darwinian atas asal usul spesies” dan kalau “banyak ilmuan terkenal memandangnya sebagai alternative dari teori Darwin.” Ini berarti mendekati 12% dari guru sekolah menengah AS memegang pandangan yang salah ini. Sebagaimana yang Brandon Keim dari Wired Science tekankan, “…mengajarkan kreasionisme atau desain cerdas disamping evolusi, seolah penjelasan religius memiliki tempat dalam keabsahan ilmiah evolusi, tidak dapat diterima – ia mengajarkan cara berpikir yang mengambang dan tidak kritis”.

Baca Juga :  Mengetahui Kandungan Unsur di Bintang

Kreasionisme, agama dan keyakinan konyol lainnya …. Apa bahayanya dalam mempercayai banyak hal ini? Sebagian apologis mencoba taktik meyakinkan orang kalau adalah baik kalau percaya pada keabsurd-an karena ia tidak menyakiti siapa-siapa. Tapi kita telah melihat dalam sejarah, bagaimana keyakinan-keyakinan gila membuat orang-orang tersakiti. Sebagian orang Kristen bahkan tidak ingin bersentuhan dengan Darwinisme. Mereka mengatakan kalau hanya kreasionisme atau desain cerdas yang sesuai dengan ajaran Kristen, sementara yang lain diracuni dengan seleksi alam. Tidak seperti pertanyaan-pertanyaan yang melibatkan alam semesta material –dimana keberadaan tuhan yang tidak ada adalah fakta yang membuat para pendebat hanya berharap untuk menemukan namun tidak mengendalikan – orang dapat paling tidak berusaha membuat masyarakat satu dimana kreasionisme sosial, deisme sosial dan ateisme sosial berdampingan. Namun masyarakat tampak menuju lebih jauh dalam spectrum dari kreasionisme sosial menuju deisme sosial dan akhirnya ateisme sosial.

Kreasionisme di bagi dua, bumi muda dan bumi tua. Kreasionisme bumi muda percaya kalau usia bumi kita ini masih sangat muda, sementara kreasionisme bumi tua percaya sama dengan penemuan ilmiah, hanya tanpa evolusi. Sungguh demikian, kreasionisme bumi muda juga mendapat tempat di sekolah-sekolah Kristen tertentu di AS. Sebagian orang berpendapat kalau pengajaran kreasionisme disekolah adalah semacam pelecehan terhadap anak.

Kritik terhadap kreasionisme

Di dalam komunitas ilmu pengetahuan biologi, kreasionisme sebagai ‘teori‘ sudah tidak dipakai dan evolusi teori sebagai gantinya. Walaupun demikian, masih berlangsung perdebatan sengit di dalam beberapa kalangan, dan biasanya berhubungan dengan pandangan hidup. Beberapa pengikut kreasionisme mendasari pendapatnya berdasarkan keyakinan hidupnya. Ada pula pendukung kreasionisme yang mencoba menampilkan kreasionisme sebagai ilmu pengetahuan dan berusaha mendiskreditkan teori evolusi dengan menggunakan argumen ilmu pengetahuan. Argumentasi ini menyerang kelemahan-kelemahan dari model-model di bidang evolusi dan geologi. Ada juga argumentasi yang berpendapat ada kesalahan interpretasi dari hukum alam maupun pengukuran waktu ke masa lampau. Para ilmuwan pendukung kreasionisme tidak terlibat secara langsung dalam laboratorium maupun studi lapangan; melainkan mereka menginterpretasikan kembali hasil study orang lain.

Kreasionisme sebagai ‘ilmu pengetahuan’ dianggap sebagai ilmu semu (pseudoscience) oleh kalangan ilmuwan. Sebabnya adalah argumen-argumen kreasionisme hanya melihat fenomena dari satu sudut, yaitu keyakinan hidup, dan tidak menggunakan metode ilmu pengetahuan yang sudah diterima. Di lain pihak, evolusi teori mendukung kesimpulan dari hasil temuan para ilmuwan.

Baca Juga :  Mendengarkan Lagu atau Nonton Video FE101 Memunculkan Ingatan Tertentu, Apa Sebabnya, ya?

Dalam pemikiran Kristiani sendiri, teori kreasionisme (sebagai asal usul jiwa) ditandingi oleh teori tradusianisme. Teori tradusianisme percaya bahwa hanya jiwa Adamlah, manusia pertama, yang diciptakan secara langsung oleh Tuhan. Jiwa manusia-manusia lain diturunkan dari jiwa orang tuanya. Tradusianisme menjadi asal muasal dari paham Deisme, yakni kepercayaan bahwa setelah Allah menciptakan alam semesta, ia beristirahat sampai seterusnya.

Liked it? Take a second to support 101 Kesalahan Flat Earth Indonesia on Patreon!

Content Protection by DMCA.com
 
%d blogger menyukai ini: