Sejarah Vaksinasi dari Kesultanan Ottoman Islam

67 / 100

Skor SEO

Seluruh anak kecil pasti pernah mendapatkan vaksinasi dipuskesmas, jika kalian tahu, teknik vaksinasi sudah lumayan tua diterapkan dalam masyarakat muslim. Teknik pengobatan vaksinasi (inoculation,vaccination, immunization) pernah diterapkan secara luas dalam masyarakat dibawah kerajaan Islam Ottoman di Turki, estimasi skt 1400 an, untuk mengobati penyakit sejenis cacar (smallpox, demam). Teknik pengobatan ini lantas diboyong ketanah Eropa oleh seorang perempuan bangsawan victoria Lady Mary Wortley Montagu (15 May 1689 – 21 August 1762).

Ceritanya dimulai ketika Lady Montagu mengikuti tugas suaminya sebagai diplomat kenegara Ottoman Turki. Dia adalah wanita bangsawan Inggris asli, terdidik baik, dan juga seorang penulis.

Bulan pertamanya di Turki dia banyak menjalin persahabatan dengan kaum wanita Turki, sekaligus saling bertukar pemikiran tentang perbedaan dua budaya. Misal dia disebut oleh wanita Turki sebagai: perempuan yang malang karena diiharuskan suaminya memakai “kurungan dibadannya”,ini adalah sebutan corset dan jenis baju lebarnya yang memang bentuknya spt dijepit didalam kurungan.

Hal lain yang Lady Montagu pelajari adalah tentang pengobatan dalam masyarakat Islam disana. Disana dia menyaksikan sendiri bagaimana penanganan penyakit cacar dg teknik vaksinasi.

Kebetulan, kakaknya dulu pernah tewas akibat serangan wabah cacar, sehingga dia tahu betul seperti apa bahayanya penyakit ini. Apa yang dia lihat di Turki itu lantas diterapkan keanaknya sendiri saat tinggal disana. Dia adalah bangsawan Eropa pertama yang mengijinkan dirinya dan anaknya diberikan vaksinasi.

Baca Juga :  Satuan-Satuan Jarak dalam Astronomi
Mary Wortley Montagu with her son Edward, by Jean-Baptiste van Mour

Ketika dia pulang ke London, dia serta merta mempromosikan cara pengobatan ala Islam Ottoman ini kepada beberapa orang disana. Sikap dia mendapat perlawanan dari banyak pihak dengan mengatakan “pengobatan Oriental” tidak bisa dijamin benar.

Seperti biasa, supremasi dan kesombongan Eropa berbicara disini, terlebih karena Ottoman adalah kerajaan Islam. Dalam catatan sejarah, dekade sebelumnya, ribuan pasukan Salib raja Richard Lion Heart raja Inggris pernah dihancurkan saat akan merebut kota suci Jerusalem oleh pasukan Sultan Salahuddin, jadi masuk akal jika sentimen anti Arab dan anti Islam sangat kental di Inggris.

Kebetulan tahun 1721 London dihajar epidemi smallpox. Lady Montagu lalu membujuk ratu Caroline agar mau melakukan prosedur ini. Lady Montagu dibantu dengan seorg ahli kimia Charles Maitland yg pernah ikut bertugas di Ottoman dan paham proses vaksinasi, lalu menjelaskan prosesnya.

Untuk menguji bahwa vaksinasi ala Ottoman ini tidak beracun maka disodorkan 7 orang narapidana (terpidana mati sebetulnya), untuk jadi kelinci percobaan. Janjinya, jika mereka sukses hidup setelah vaksinasi, maka dibebaskan dan diberi ampunan. Ternyata 7 napi ini selamat dan mereka diberikan kebebasan penuh. Logikanya, jika napi itu selamat di vaksinasi maka manusia lain akan selamat juga.

Lalu ujicoba dilakukan kepada beberapa anak kecil, sekalilagi semua sukses hidup. Pada tahun 1722, akhirnya Raja Inggris King George mengijinkan Charles Maitland untuk memberikan vaksinasi bagi anak anaknya, cucunya dan istrinya.

Baca Juga :  Uji Coba Nuklir Menembus Langit

Cara pengobatan Turki yakni inoculation (vaccination, immunization) yang tadinya ditentang habis habisan oleh semua kalangan di Inggris akhirnya diterapkan secara meluas di 1754. Lady Montagu tercatat dalam sejarah akhirnya karena dialah yg membawa teknik vaksinasi ini ke Eropa dari masyarakat Ottoman.

Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir  (QS Yunus: 24).

View this post on Instagram

Kementerian Kesehatan menunjukkan sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan ada 622 kasus, 32 diantaranya meninggal. Difteri sebenarnya merupakan penyakit lama yang sudah ada vaksin penangkalnya yang disebut vaksin DPT. Idealnya, vaksin ini diberikan minimal tiga kali seumur hidup sejak berusia dua tahun. Vaksin ini akan efektif jika diberikan setiap 10 tahun. Menurut guru besar FKUI Jose Rizal Latief Batubara, “Ini sebenarnya penyakit lama yang harusnya sudah hilang dengan vaksinasi, tapi karena ada kelompok-kelompok anti vaksinasi, nggak semua anak divaksin jadinya”. Di kalangan Muslim, gerakan antivax sering mengutip data dampak negatif vaksinasi dari media populer Barat (yang sebenarnya kontroversial), seraya juga menyatakan bahwa “di masa khilafah tanpa vaksinasi juga manusia tetap sehat”. Patut diduga bahwa gerakan antivax di kalangan Muslim ini justru dari mereka yang ghirah keislamannya tinggi. Sangat menarik untuk mengetahui, bahwa justru cikal bakal vaksinasi itu dari dokter-dokter Muslim zaman khalifah Turki Utsmani, bahkan mungkin sudah dirintis sejak zaman Abbasiyah. Ini diceritakan pada buku “1001 Inventions Muslim Heritage in Our World” (buku ini bisa didownload di https://s.id/1001inventions-muslim Di halaman 176 tertera: “The Anatolian Ottoman Turks knew about methods of vaccination, they called vaccination Ashi or engrafting, and they had inherited it form older turkic tribes”. Vaksinasi adalah proses memasukkan kuman yang telah dilemahkan ke dalam tubuh untuk mengaktifkan sistem kekebalan yang sebenarnya sudah ada didalam tubuh tapi belum aktif. Kekebalan itu tidak muncul sendiri meski saat baru lahir bayi ditahnik dan selama dua tahun mendapatkan ASI. Tanpa vaksinasi, kekebalan itu baru muncul setelah orang terserang penyakit, bila dia selamat. Namun yang lebih sering terjadi, sebelum kekebalan itu muncul, pasien sudah telanjur meninggal atau cacat. Jadi vaksinasi ini adalah cara merangsang kekebalan dengan risiko minimal. #antivaksin #antivax #101kfe 👉 Deskripsi lanjut di kolom komentar pertama 👇.

A post shared by 101 Kesalahan Flat Earth 🇮🇩 🌏 (@101kfe.id) on

Sumber : Lady Mary Wortley Montagu

Liked it? Take a second to support 101 Kesalahan Flat Earth Indonesia on Patreon!

Content Protection by DMCA.com
 
%d blogger menyukai ini: