Waktu Baca: 8 Menit
Bagaimana reaksi anda ?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
You have reacted on "" A few seconds ago

(bahasa Inggris: biological weapon) adalah senjata yang menggunakan patogen (, , atau organisme penghasil penyakit lainnya) sebagai alat untuk membunuh, melukai, atau melumpuhkan musuh. Dalam pengertian yang lebih luas, tidak hanya berupa organisme patogen, tetapi juga toksin berbahaya yang dihasilkan oleh organisme tertentu. Dalam kenyataanya, tidak hanya menyerang manusia, tetapi juga hewan dan tanaman.

Pembuatan dan penyimpanan telah dilarang oleh Konvensi 1972 yang ditandatangani oleh lebih dari 100 negara. Alasan pelarangan ini adalah untuk menghindari efek yang dihasilkan , yang dapat membunuh jutaan manusia, dan menghancurkan sektor ekonomi dan sosial. Namun, Konvensi hanya melarang pembuatan dan penyimpanan , tetapi tidak melarang pemakaiannya.

Sejarah penggunaan dimulai pada tahun 400 SM, ketika orang Iran Kuno (scythians) menggunakan panah yang dicelupkan ke dalam feses (kotoran) dan mayat makhluk hidup yang telah membusuk. Hal serupa juga dilakukan oleh bangsa Roma yang mencelupkan pedangnya ke dalam pupuk dan sisa hewan yang telah membusuk sebelum berperang dengan musuhnya. Apabila musuhnya terluka oleh senjata tersebut, maka terjadi infeksi penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Peristiwa penting dalam sejarah kuno penggunaan terjadi ketika bangsa Mongol mengusir bangsa Genoa dari kota Kaffa di Laut Hitam dengan memanfaatkan mayat-mayat manusia yang terinfeksi wabah pes. Ketika bangsa Genoa menyingkir hingga ke Venice, mereka tetap diikuti oleh kutu dan tikus yang terinfeksi pes sehingga akhirnya menimbulkan “kematian hitam” (black death) di wilayah .

Pada tahun 1754-1760, terjadi peperangan antara bangsa Britania Utara dan bangsa Indian yang melibatkan penggunaan cacar. Ketika itu, Britania Utara memberikan pakaian dan selimut dari rumah sakit yang merawat penderita cacar kepada bangsa Indian untuk memusnahkan bangsa tersebut. Pada Perang Dunia I, Jerman menggunakan dua patogen, yaitu Burkholderia mallei penyebab Glanders dan Bacillus anthracis penyebab Antrax untuk menginfeksi ternak dan kuda tentara Sekutu. Pada tahun 1932-1935, Jepang mengembangkan program pembuatan di yang dinamakan Unit 731. Sebanyak 3.000 ilmuwan Jepang bekerja untuk melakukan penelitian terhadap berbagai agen biologi yang berpotensi sebagai senjata, misalnya kolera, pes, dan penyakit seksual yang menular. Eksperimen yang dilakukan menggunakan tahanan yang mengakibatkan ± 10.000 tahanan mati pada masa itu. Sejak saat itu, tidak hanya Jepang yang mengembangkan , tetapi juga diikuti oleh negara-negara lain seperi Amerika Serikat dan Uni Soviet.

  • Agen Biologi

Agen biologi adalah mikroorganisme (atau toksin yang dihasilkannya) yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman, hewan, atau tumbuhan, atau menyebabkan kerusakan material.[4] Dalam pembuatan , agen biologi merupakan komponen penting yang harus diteliti terlebih dahulu sebelum diaplikasikan.[4] Beberapa agen biologi dan penyakit yang pernah direncanakan untuk dijadikan senjata atau sudah pernah dijadikan di dunia antara lain:

Bacillus anthracis, salah satu agen biologi penyebab Antrax.
Bacillus anthracis, salah satu agen biologi penyebab Antrax.
    • Bacillus anthracis (Antrax).
    • Brucella sp. (Brucellosis).
    • Chlamydia psittaci (Psittacosis).
    • Coxiella burnetii (Demam Q).
    • O157:H7 (Gastroenteritis).
    • Shigella (Shigellosis).
    • Francisella tularensis (Tularemia)
    • Burkholderia mallei ( Glanders)
    • Burkholderia psedomallei (Melioidosis)
    • Salmonella typhi (Tifus)
    • Variola (Cacar atau variola)
    • Vibrio cholerae (Kolera)
    • Ebola
    • Marburg
    • demam lembah Rift atau Rift Valley Fever
    • alfa (ensefalitis)
    • demam kuning atau yellow fever
    • dan lain-lain.
  • Karakteristik

Karakteristik dari adalah mudah diproduksi dan disebar, aman digunakan oleh pasukan penyerang yang menyebarkannya, serta dapat melumpuhkan atau membunuh individu berulang kali dengan hasil yang sama/konsisten. Hal ini berarti, apabila kita menggunakan yang sama untuk menyerang beberapa daerah berbeda, maka dampak yang terjadi haruslah sama. Agen biologi pada juga harus dapat diproduksi dengan cepat dan murah. Untuk membuat suatu yang berkualitas baik, ada beberapa persyaratan tambahan yang harus dipenuhi, yaitu dapat ditularkan, menimbulkan sakit berkepanjangan yang membutuhkan perawatan intensif, dan gejala yang ditimbulkan bersifat non-spesifik sehingga menyulitkan diagnosis. Umumnya, yang baik juga memiliki waktu inkubasi yang cukup panjang di dalam tubuh penderita sehingga penyakit dapat ditularkan dan menyebar secara luas sebelum dapat terdeteksi.

Klasifikasi atau pengelompokkan dapat dilakukan berdasarkan taksonomi, inang, sindrom yang ditimbulkan, efek yang dihasilkan, cara penyebarannya, dan respon praktis atau menurut sifat fungsionalnya. Salah salah klasifikasi yang sering digunakan klasifikasi fungsional yang dibuat oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention atau ), meliputi:

    • Kategori A
      • penyebarannya dapat dilakukan dengan mudah dan ditularkan dari manusia yang satu ke yang lain;
      • penyebabkan tingkat kematian yang tinggi dan berpotensi memengaruhi kesehatan publik;
      • dapat menyebabkan kepanikan dan gangguan sosial;
      • memerlukan penanganan khusus untuk persiapan kesehatan masyarakat.
      • Contoh kategori A: cacar, antrax, botulisme, dll.
    • Kategori B
      • kemampuan penyebarannya bersifat moderat;
      • menimbulkan tingkat kesakitan yang moderat dan tingkat kematian yang rendah;
      • memerlukan peningkatan kapasitas diagnostik yang spesifik dan peningkatan pengawasan penyakit.
      • Contoh kategori B: brucellosis, demam Q, Glanders, dll.
    • Kategori C, meliputi patogen yang dapat dimodifikasi untuk disebarluaskan pada masa depan, karena memiliki karakeristik:
      • ketersediaan memadai;
      • mudah diproduksi dan disebarkan;
      • berpotensi menyebabkan tingkat kematian dan kesakitan yang tinggi, serta mampu memengaruhi kesehatan publik.
      • Contoh kategori C: Hanta, Nipah, demam kuning, dll.
  • Keuntungan

Penggunaan memiliki beberapa keuntungan dan keunggulan dibandingkan jenis senjata militer lainnya. Beberapa keuntungan pemakaian adalah biaya produksi relatif murah dibandingkan senjata penghancur lainnya, alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan agen biologi cukup sederhana, dan waktu yang diperlukan dalam pembuatannya relatif lebih pendek. Secara ekonomis, pembuatan juga menguntungkan karena dapat dibuat atau penawar dari yang telah diciptakan dengan alat yang sama namun dapat diperdagangkan kembali dengan harga tinggi. Penyerangan dengan disukai oleh banyak negara karena penyebarannya tidak terdeteksi dan musuh tidak menyadari adanya penyerangan dengan . Selain itu, agen biologi yang hidup di dalam tubuh manusia dapat berkembang biak dan menyebar dari individu satu ke individu lain secara alami. Hal ini sangat mungkin terjadi karena agen biologi (terutama ) yang disebar tidak terlihat oleh mata telanjang, tidak berbau, dan tidak berasa. Dibandingkan dengan senjata nuklir, lebih unggul karena penggunaannya tidak merusak infrastruktur atau fasilitas yang ada dalam daerah yang diserang, sehingga infrastruktur yang tertinggal dapat dimanfaatkan kembali.

Trending sekarang :  Behind the Curve Eksperimen Bumi Datar Gagal

Penggunaan juga memiliki kelemahan yang apabila tidak diperhitungkan secara cermat dapat merugikan. Di antaranya adalah perlunya perhitungan cuaca atau kondisi yang tepat untuk melakukan penyebaran senjata tersebut karena sedikit perubahan arah angin dapat mengakibatkan agen biologi berbalik menyerang diri sendiri. Untuk agen biologi yang disebar melalui udara, waktu tinggal atau ketahanan mereka di udara merupakan hal yang penting untuk diketahui agar tidak terjadi infeksi sekunder pada pasukan penyerang ketika mereka memasuki daerah yang telah berhasil dilumpuhkan/diinfeksi. Pasukan yang bertugas menyebarkan juga harus dilengkapi dengan berbagai alat pelindung karena risiko terinfeksi agen biologi yang digunakan sebagai senjata dapat dialami oleh mereka. Beberapa jenis juga diketahui rentan terhadap radiasi matahari maupun perubahan cuaca sehingga agen biologi dapat terinaktivasi dan tidak dapat berfungsi dengan baik. Untuk beberapa jenis seperti itu, biasanya dilakukan penyebaran pada larut malam atau pagi subuh sehingga radiasi matahari tidak akan mengganggu dan agen biologi dapat menyebar pada ketinggian yang rendah dan menyelimuti daerah yang diserang. Kerugian lain dari penggunaan adalah adanya beberapa agen biologi yang dapat bertahan lama di lingkungan (seperti spora Bacillus anthracis) sehingga daerah yang telah diinfeksi tidak dapat dihuni/ditinggali dalam jangka waktu yang cukup lama.

Kemajuan ilmu (terutama rekayasa genetika) memiliki dampak negatif dan positif dalam pengembangan . dalam positif yang ditimbulkan adalah munculnya metode dan berbagai cara deteksi, identifikasi, dan neutralisasi agen biologi patogen secara lebih cepat. Berbagai jenis dan anti-toksin juga telah dikembangkan untuk mengontrol dan patogen yang digunakan sebagai . Modifikasi materi genetik/DNA organisme juga telah diterapkan untuk membuat racun, elemen yang menular, maupun yang mematikan. Data Proyek Genom Manusia (Human Genome Project) juga telah dimanfaatkan untuk meningkatkan sistem pertahanan sipil dan nasional suatu negara dalam melawan penggunaan dan pembuatan serta mengembangkan antibiotik dan baru.

Trending sekarang :  NABI ISA (6 SM - 30 M)
Bom E120, salah satu senjata biologi yang berisi 0.1 kg agen biologi cair dan dikembangkan pada tahun 1960-an.
Bom E120, salah satu yang berisi 0.1 kg agen biologi cair dan dikembangkan pada tahun 1960-an.

Kemajuan juga dapat disalahgunakan oleh sebagian orang untuk mengembangkan yang sangat berbahaya, contohnya adalah menghasilkan organisme makroskopis yang secara genetik sudah dimodifikasi untuk memproduksi toksin atau racun berbahaya. Berbagai agen biologi patogen juga dapat direkayasa secara genetik agar lebih tahan atau stabil pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan dan memiliki resistensi terhadap antibiotik, , dan terapi yang sudah ada. Selain itu, juga dimanfaatkan untuk pembuatan agen biologi yang tidak dapat dikenali oleh sistem imun atau antibodi tubuh karena profil imunologisnya telah diubah. Apabila yang telah dikembangkan dimanfaatkan untuk bioterorisme atau penyalahgunaan lainnya maka akan timbul kekacauan di dunia.

Upaya pengendalian telah dilakukan sejak tahun 1925 melalui perjanjian internasional yang disebut Protokol Geneva (Geneva Protocol) yang memuat larangan penggunaan . Namun, perjanjian itu terbukti masih dilanggar oleh beberapa negara. Oleh karena itu, pada tahun 1972, mengadakan Konvensi dan Toksin (Biological and Toxin Weapon Convention atau BTWC) yang mempertegas larangan pengembangan, pembuatan, dan penyimpanan segala jenis . Namun perjnajian tersebut juga masih dilanggar oleh beberapa negara, seperti Rusia dan Irak karena BTWC tidak melakukan pengawasan dan pembuktian tidak adanya kegiatan produksi pada setiap negara. Pada tahun 1995, Ad Hoc membentuk protokol inspeksi dan pembuktian di lapangan yang sayangnya tidak didukung penuh oleh seluruh negara penandatangan perjanjian terdahulu, seperti Amerika Serikat. Pemerintah Amerika memiliki cara sendiri untuk mengendalikan di negaranya, di antaranya melalui produksi skala besar dan pendistribusiannya serta pengembangan strategi dan taktik untuk mencegah dampak buruk . Melalui Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention atau ), Amerika meningkatkan kemampuan diagnostik dengan membangun jaringan yang menghubungkan berbagai pusat kesehatan regional sehingga penyakit yang diakibatkan atau bioterorisme dapat dideteksi dengan lebih cepat.

Trending sekarang :  Bendera PBB adalah Peta Bumi Datar ?

Pada tahun 2008, Konvensi (Biological Weapons Convention) membahas tentang peningkatan pemahaman tentang pentingnya mengembangkan keamanan biologi, termasuk di dalam laboratorium yang menggunakan patogen maupun toksin berbahaya. Pada pertemuan tersebut juga dibahas tentang pencegahan penyalahgunaan ilmu biologi dan untuk dengan cara meningkatkan kesadaran akan risiko yang dapat timbul, memperketat pengawasan, serta memberikan pendidikan dan peningkatan bioetika dalam aplikasi ilmu kehidupan. Untuk pengendalian dan pengawasan , telah dilakukan pembuatan data yang berpotensi menjadi . Selain itu, pengembangan molekul anti- juga telah dilakukan untuk mengeliminasi patogen namun tidak membahayakan manusia dan hewan.

  • Referensi :
    1. Federation of American Scientists. “Introduction to Biological Weapons”.
    2. “Convention on the Prohibition of the Development, Production and Stockpiling of Bacteriological (Biological) and Toxin Weapons and on Their Destruction” (PDF).
    3. Eric Croddy (2001). Chemical and Biological Warfare: A Comprehensive Survey for the Concerned Citizen. Springer. ISBN 978-0-387-95076-1.Page: 219-224
    4. D.B. Rao (2001). Biological Warfare. Discovery Publishing House. ISBN 978-81-7141-597-7.Page: 39
    5. Madigan MT, Martinko JM, (2000). Brock Biology of Microorganisms. Prentice Hall. ISBN 978-0-13-081922-2.Page: 842-845
    6. Educational Foundation for Nuclear Science, Inc. (1964). “Fas statement on biological and chemical warfare”. Bulletin of the Atomic Scientists20 (8): Page: 46.
    7. Charles Edward Stewart (2005). Weapons of mass casualties and terrorism response handbook. Jones and Bartlett Publishers, Inc. ISBN 978-0-7637-2425-2.Page: 84
    8. harad S. Chauhan (2004). Biological Weapons. APH Publishing Corporation. ISBN 978-81-7648-732-0.Page: 8-21
    9. Jim A. Davis, Barry R. Schneider (2004). The gathering biological warfare storm. Praeger. ISBN 978-0-275-98314-7.Page: 57-58
    10. Edward M. Eitzen. “Use of Biological Weapons”. Medical Aspects of Chemical and Biological Warfare: 437–450.
    11. Robert I. Krasner (2009). The Microbial Challenge: Science, Disease, and Public Health. Jones and Bartlett Publishers. ISBN 978-0-7637-5689-5.Page: 35
    12. Thomas W. McGovern, George W. Christopher (2001). “Biological Warfare and Its Cutaneous Manifestations”The Internet Dermatology Society, Inc.
    13. Edgar J. DaSilva (1999). “Biological warfare, bioterrorism, biodefence and the biological and toxin weapons convention”Electronic Journal of Biotechnology2 (3). doi:10.4067/S0717-34581999000300001.
    14. Alibek, K. and S. Handelman. Biohazard: The Chilling True Story of the Largest Covert Biological Weapons Program in the World– Told from Inside by the Man Ran it. Delta (2000) ISBN 0-385-33496-6
    15. “Biological Weapons and Warfare”. Mei 1995. Diakses tanggal Mei 2010.
    16. Dr. Arief B. Witarto (2002). “Bahaya Senjata Biologis” (PDF): 1–3.
    17.  “Biological Weapons Convention Sees Limited Progress in 2008”. Februari 2009.
    18. Virus Corona, Bentuk Senjata Biologis Tiongkok Untuk Perang ?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini