Waktu Baca: 3 Menit
Bagaimana reaksi anda ?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
You have reacted on "Si Terancam Punah" A few seconds ago

Kabar baik datang dari Kebun Raya Bogor di awal tahun 2020. Pada 3 Januari, yang langka, berhasil mekar di sana. Dengan tinggi 194 sentimeter, tanaman yang kerap disebut sebagai raksasa ini, menjulang tegak di tengah kebun raya.

Pendahuluan

Berbicara tentang , ia merupakan tumbuhan asli dan merupakan fauna endemik Sumatra. Dengan kata lain, populasinya hanya dapat ditemukan di hutan-hutan Sumatra. Sayangnya, keberadaan di alam liar sangat mengkhawatirkan.

Yuzammi, peneliti di Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya-LIPI, mengungkapkan, saat ia melakukan penelitian pada 2018 di salah satu hutan Sumatra, dalam satu kawasan tersebut, hanya ada sekitar 10 individu . International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) bahkan mengubah status dari “vulnerable” menjadi “endangered”.

Faktor Kepunahan

Ada beberapa faktor yang menyebabkan tanaman langka ini terancam punah. Di antaranya penebangan hutan, ahli fungsi hutan menjadi ladang atau perkebunan, serta ketidaktahuan masyarakat bahwa merupakan tanaman khas yang sangat berharga. Belum lagi, tersebar “mitos” yang memengaruhi penilaian warga sekitar terhadap ini.

Banyak orang mengira akan memakan manusia karena ukurannya yang besar dan bentuknya yang mengerikan. Selain itu, tangkai daunnya yang memiliki corak seperti ular membuat masyarakat mengira merupakan tanaman pemanggil ular.

Trending sekarang :  Ilmuwan Israel Segera Hadirkan Vaksin Virus Corona

“Itulah sebabnya jika menemukan ini, terkadang warga mencincangnya sampai habis,” cerita peneliti yang kerap disapa Ami ini.

Sementara itu, di Bengkulu, menurut Ami, penduduk yang termakan mitos, kerap memotong demi menemukan batu mustika. Padahal tentu saja mereka tidak akan menemukan apa-apa di sana.

() yang mekar di Kebun Raya Bogor pada 3 Januari 2020
Pengembangbiakan

Dalam rangka melestarikan populasi , lembaga konservasi seperti PKT Kebun Raya-LIPI bekerja sama dengan Kebun Raya Liwa, Lampung, berupaya membudidayakan tanaman tersebut di Bogor untuk pemanfaatan yang berkelanjutan.

Perjuangan untuk membawa dan mengembangkan di Kebun Raya Bogor bukanlah hal mudah. Tim peneliti pun memerlukan waktu sekitar tiga tahun hingga akhirnya mekar pada awal Januari ini.

“Saat mengambil umbinya dari dalam hutan, kami mesti berhati-hati agar ia tidak terluka. Sebab, tergores sedikit saja, tanaman ini riskan terkena serangan jamur,” papar perempuan yang telah menjadi peneliti sejak 1993 ini.

Meski begitu, menurut Ami, tanaman Araceae cukup tahan banting. Jadi, meski dibawa ke wilayah lain dalam kondisi dorman (tidak ada daun, hanya umbi saja), mereka bisa tetap tumbuh. Syaratnya perlu kehati-hatian saat menanamnya karena mereka sangat rentan. Selain itu, perlu juga memonitor kepadatan tanahnya, jangan sampai tergenang air.

Trending sekarang :  Seluruh Pasien Virus Corona di Vietnam Dinyatakan Sembuh

“Sepanjang saluran air tempat mereka tumbuh itu bagus, maka akan baik-baik saja. Jangan sampai ada genang air karena itu akan membuat mereka membusuk. Itulah sebabnya kami menanam ini di tanah miring yang mirip dengan habitat aslinya agar air terus mengalir,” jelas Ami.

Karakteristik Utama

Tanaman ini pertama kali ditemukan di kawasan Lembah Anai, Sumatra Barat, pada 1878 oleh ilmuwan asal Italia, Odoardo Beccari.

Nama Amorphophallus diberikan karena bentuk bunganya yang seperti penis rusak. Diambil dari bahasa Yunani, amorphos berarti tidak berbentuk, dan phallos merupakan alat kelamin laki-laki (penis). Sementara, titan artinya besar.

memang memiliki ukuran yang lebih besar dibanding tanaman dari keluarga Araceae lainnya. Ami mengatakan, ia bisa tumbuh hingga empat meter. Hal ini pulalah yang membuat mendapat julukan “ raksasa”.

Karena termasuk dalam suku talas-talasan, tanaman ini pun memiliki umbi yang juga berukuran besar—mencapai 117 kilogram.

Fase daun dan fase bunga dari ini tidak bersamaan. Fase daun dapat mencapai 1-2 tahun, setelah itu umbi akan dorman (istirahat) selama beberapa bulan atau lebih, kemudian berbunga. Bunganya berkumpul di pangkal tangkai (spadix), dan tersembunyi di balik selubung merah marun di dasarnya (spathe).

Bunga mekar sempurna di malam hari, yang terbaru di Kebun Raya Bogor, terjadi pada 3 Januari 2020 sekitar 8-10 malam. Saat mekar inilah, ia mengeluarkan bau bangkai.

Trending sekarang :  Li Wenliang Dokter Pertama Kali Peringatkan Wabah Virus Corona

Proses mekarnya tidak berlangsung lama, hanya beberapa hari saja. “Malam hari ia akan mekar sempurna. Pagi harinya masih bisa dilihat, tapi itu tidak akan bertahan lama. Nantinya, akan menutup, jatuh, dan kembali dorman,” ungkap Ami.

Banyak orang yang sulit membedakan Amorphophallus dengan . Bahkan, menurut Ami, di buku pelajaran sekolah, sering terjadi kesalahan penyebutan .

“Yang kita sebut adalah Amorphophallus ini, sementara adalah puspa langka. Mereka sama-sama mengeluarkan bau bangkai dan inilah yang menyebabkan kesalahpahaman,” terang perempuan kelahiran Sumatra Barat ini.

Sebenarnya, perbedaan keduanya sangat nyata. Jika berbicara tentang , ia adalah bunga terbesar di dunia. Namun, adalah tanaman parasit yang tidak memiliki batang, daun dan akar. hidup menumpang pada tanaman inang bernama tetrastigma. Apabila tanaman tersebut mati, maka juga mengalami nasib yang sama. Sementara, Amorphophallus mempunyai umbi dan hidup sendiri. Ia memiliki batang, daun dan bunga sendiri juga.

“Saya berharap akan ada semakin banyak informasi terkait tumbuhan langka dan asli sehingga kekeliruan bisa dihindari,” ungkap Ami.

Kini, LIPI tengah meneliti kandungan umbi . Umbinya dianggap bermanfaat karena kandungan glucomanan-nya. Itu memiliki kegunaan sebagai zat pengental serta jelly kaya serat yang bagus untuk menurunkan kolesterol dan kadar gula darah serta baik bagi kesehatan pencernaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini