Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini ?
+1

4

+1

5

+1

3

+1

3

+1

+1

2

86 / 100

Skor SEO

Estimasi Waktu Baca: 3 menit

Umar Bin Khattab , Berbagai negara di dunia sedang dilanda (). sendiri sejak beberapa hari terakhir telah menaikkan status menjadi Darurat Bencana Corona seiring semakin melonjaknya korban yang terjangkit. Bahkan, pada 22 Maret 2020, Kepala BNPB telah mengumumkan perpanjangan status hingga 29 Mei 2020.

Bencana wabah penyakit juga pernah terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Beberapa sahabat Nabi yang lain bahkan menjadi korban dari wabah tersebut.

Umar bin Khattab adalah sahabat Nabi yang telah banyak memberikan sumbangsih besar bagi perjalanan sejarah . Di masa kenabian, Umar selalu menjadi andalan menghadapi musuh-musuh . Ketika diberi mandat menjadi khalifah, ia sangat sangat tegas dalam mengambil keputusan demi kebaikan dan kesejahteraan rakyatnya, termasuk kebijakan yang tidak populer.

Di bawah kepemimpinan Umar, ajaran Islam berkembang sangat pesat dan tersebar ke berbagai penjuru wilayah. Namun, salah satu ujian terberat terjadi pada tahun keenam masa kepemimpinannya yakni tahun 18 Hijriah / 561 Masehi. Di tahun ini, Islam menghadapi dua ujian besar. Pertama, sebagian wilayah kekuasan Islam dilanda kekeringan dan kelaparan. Kedua, pada saat yang sama, umat Islam diuji dengan wabah penyakit mematikan. Dalam berbagai literatur sejarah Islam, wabah ini dikenal dengan Tha’un ‘Awamas (wabah penyakit ‘Awamas). Nama ‘Amawas diambil dari daerah asal lahirnya penyakit, yakni sebuah desa kecil di negeri Damaskus. Tahun itu dikenal dengan ‘tahun kelabu’ di zaman Umar karena dua bencana kemanusiaan tersebut.

  • Lalu apa yang dilakukan Umar sebagai pemimpin ?

Untuk mengatasi kekeringan dan kelaparan, Umar memberikan beberapa keputusan strategis, di antaranya, mendistribusikan berbagai kebutuhan pokok ke berbagai wilayah terdampak, dan melarang keras penimbunan bahan kebutuhan. Umar juga mengajak masyarakat untuk melakukan istisqa’ dan berdoa memohon hujan kepada Tuhan.

Hot News :  Satelit tidak Terdeteksi Teleskop

Untuk menangani wabah penyakit yang terjadi di negeri Damaskus, Umar menempuh langkah-langkah strategis.

Pertama, memerintahkan gubernur Abu Ubaidah bin al-Jarrah untuk mengisolasi rakyatnya.

Kedua, mengurungkan perjalanannya menuju Damaskus. Pembatalan itu terjadi saat Umar bersama rombongan sudah sampai di Sargha, sebuah desa di wilayah Tabuk, setelah adanya kabar pandemi virus ‘Amawas di wilayah Damaskus.

Keputusan itu diambil setelah melalui musyarah yang cukup alot dengan para sahabat yang lain, dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kemudian, Abd al-Rahman bin Auf menyampaikan pesan Nabi:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

“Jika kalian mendengar adanya wabah di suatu negeri maka janganlah kalian memasukinya. Namun, jika terjadi wabah di tempat kalian berada maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Hot News :  Bagaimana Teori Konspirasi Illuminati Dimulai

Umar memilih untuk menghindari wabah penyakit mematikan. Ia menjauhi satu tadir (terjangkit wabah) menuju takdir yang lain (selamat dari wabah).

Abu Ubaidah bin al-Jarrah (58 tahun), Muadz bin Jabal (38 tahun) lebih memilih takdir yang pertama, hingga mereka rela mati syahid menghadapi wabah penyakit tersebut. Selain mereka, sahabat Nabi yang meninggal karena pandemi ‘Awamas tersebut adalah Abdurrahman bin Muaz, Yazid bin Abi Sufyan, al-Harits bin Hisyam, dan Suhail bin ‘Amr.

Sementara sahabat dekat Nabi yang memilih takdir kedua (menghindar dari wabah), selain Umar, adalah Abdurrahman bin Auf. Saat Abdurrahman mengambil alih kepemimpinan negeri Damaskus, ia mengajak masyarakat untuk menghindari wabah. Bersama Umar dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Abdurrahman bin Auf adalah tiga sahabat pemuka Nabi yang mendapatkan jaminan masuk surga.

Para ahli sejarah mencatat, korban meninggal karena wabah penyakit ‘Awamas mencapai 25 ribu orang. ‘Awamas adalah wabah penyakit pertama yang terjadi di dunia Islam pasca wafatnya Nabi, walaupun di zaman Nabi pernah terjadi wabah penyakit serupa namun tidak menyerang umat Islam, yakni pada tahun keenam Hijrah.

  • Beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran bagi kita saat ini di tengah pandemi COVID19.

Pertama, kebijakan lockdown wilayah tertentu dan merupakan langkah tepat menghindari atau meminimalisasi korban lebih banyak. Masyarakat dituntut untuk melakukan ;

Hot News :  Indonesia Tutup Pintu Masuk dan Keluar Negeri Terkait COVID19

Kedua, pemerintah harus memastikan supply ketersediaan kebutuhan masyarakat di masa lockdown dan isolasi. Karena itu, tidak boleh ada praktik penimbunan bahan kebutuhan masyarakat. Pemerintah harus melarang dan menindak tegas praktik, agar masyarakat tidak mengalami kepanikan lebih parah.

Ketiga, wabah penyakit tidak mengenal status sosial, pekerjaan, dan agama atau tingkat religiusitas seseorang. Para sahabat Nabi yang menjadi korban wabah penyakit ‘Amawas adalah para sahabat pilihan Nabi Muhammad. Mereka tentu saja tidak diragukan keshalehan dan ibadahnya, yang setiap saat berwudhu’ dan melakukan shalat. Karena itu, berbagai upaya mesti kita lakukan, baik upaya rasional maupun spiritual, agar selamat dari Covid-19.

Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini ?
+1

4

+1

5

+1

3

+1

3

+1

+1

2

Liked it? Take a second to support 101 Kesalahan Flat Earth Indonesia | Debunking Flat Earth on Patreon!

Umar Bin Khattab - Wabah Damaskus 1

Content Protection by DMCA.com